top of page

Flood Forecasting and Early Warning System: Memetakan Potensi Bencana, Mitigasi Risiko, dan Penguatan Sistem Peringatan Dini

Flood Forecasting and Early Warning System menguatkan mitigasi bencana berbasis data pemantauan dan prakiraan dari pos klimatologi, pos curah hujan, dan pos duga air.
Sumber: Pribadi

Statistik bencana di Indonesia pada tahun 2025 masih didominasi oleh jenis bencana hidrometeorologi. Berdasarkan laporan Bencana Indonesia tahun 2025 yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dominasi bencana hidrometeorologi yang mencapai 99,26% dengan bencana banjir yang mencapai 2.009 kejadian. Dengan data laporan tersebut, mitigasi dan penguatan sistem peringatan dini banjir menjadi skala prioritas untuk meningkatkan keamanan maupun keselamatan.


Letak Geografis dan Faktor Pemicu Bencana di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang memiliki gugusan pulau indah. Bentang keindahan negara kepulauan tersebut menyajikan beraneka ragam daya tarik. Lebih dari itu, Indonesia juga menyuguhkan berbagai potensi kekayaan sumber daya alam. Mulai dari tanah yang subur untuk budidaya berbagai jenis agrikultur hingga potensi energi dan mineral yang dapat dimanfaatkan untuk menopang berbagai aktivitas.


Secara letak geografis, Indonesia terletak di antara dua benua dan dua samudera. Benua tersebut meliputi Benua Asia dan Benua Australia. Sedangkan samudera meliputi Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Namun di sisi lain, posisi Indonesia juga berada pada titik pertemuan pegunungan muda Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania yang membawa pengaruh terhadap banyaknya gunung api serta potensi terhadap rawan gempa.


Dampak terhadap letak geografis tersebut, setidaknya menghadapkan Indonesia dengan tantangan berupa:


  1. Potensi Bencana Alam

Seperti yang sudah diketahui, Indonesia memiliki banyak gunung berapi hingga daerah aliran sungai yang cukup luas. Bentang alam tersebut memerlukan langkah antisipasi dan mitigasi risiko terhadap berbagai bentuk kejadian bencana. Mulai dari gempa hingga bencana banjir.


  1. Kondisi Iklim

Indonesia menjadi negara dengan iklim tropis yang memiliki dua pola musim yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Adapun pola peralihan musim tersebut akan dipengaruhi oleh angin monsoon. Hembusan angin monsoon tersebut kemudian akan mempengaruhi peralihan musim di Indonesia di mana pada bulan April hingga Oktober akan berlangsung musim kemarau. Sedangkan pada bulan Oktober hingga April berlangsung musim penghujan.


Pemetaan Potensi, Karakter, dan Jenis Bencana Alam di Indonesia

Berkaca pada kondisi maupun letak geografis Indonesia yang diapit oleh dua samudera, dua benua, dan bahkan pertemuan dua pegunungan muda Sirkum Pasifik dan Sirkum Mediterania maka analisis ataupun kajian lingkungan diperlukan untuk memetakan potensi bencana. Adanya kajian dan pemantauan lingkungan selain bermanfaat untuk pemetaan potensi bencana juga dapat digunakan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan untuk penguatan sistem peringatan dini.


Terlebih lagi, pola peralihan musim yang dipengaruhi oleh dampak dari perubahan iklim turut memperbesar peluang terhadap adanya eskalasi kejadian bencana. Baik saat musim kemarau yang berpotensi terhadap munculnya titik panas memicu adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan atau saat musim penghujan yang berpeluang untuk memicu terjadinya bencana banjir.


Dalam laporan Bencana Indonesia 2025 yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kejadian bencana hidrometeorologi bahkan menyentuh angka 99,26%. Bencana banjir menjadi jenis bencana dengan kejadian terbanyak yang mencapai 2.009 kejadian.


Setidaknya terdapat 3 jenis bencana alam yang meliputi:


  1. Bencana Alam Geologi

Jenis bencana alam ini dapat dipicu oleh adanya aktivitas tektonik atau vulkanik yang terjadi di permukaan bumi. Sebagai contohnya, bencana geologi bisa berupa gempa bumi, gunung meletus, hingga tsunami.


  1. Bencana Alam Meteorologi

Bencana alam meteorologi adalah jenis bencana yang memiliki keterkaitan dan pengaruh oleh iklim dan cuaca. Contoh dari jenis bencana alam meteorologi adalah banjir, angin topan, kekeringan, hingga pemanasan global.


  1. Bencana Alam Ekstraterestrial

Bencana alam ekstraterestrial bisa dikatakan sebagai jenis bencana yang jarang terjadi. Jenis bencana ini berkaitan dengan adanya benda di luar angkasa yang menjadi faktor pemicu terhadap kejadian bencana dan mempengaruhi keadaan bumi. Contoh dari bencana alam ekstraterestrial adalah meteor jatuh hingga badai matahari.


Flood Forecasting and Early Warning System

Flood Forecasting and Early Warning System atau sistem peramalan dan peringatan dini banjir adalah inovasi yang memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung berbagai kajian dan pemantauan lingkungan. Pada aktivitas pemantauan lingkungan yang dilakukan dengan menggunakan sistem yang mengintegrasikan berbagai komponen di antaranya sensor curah hujan, data muka air sungai, dan prediksi cuaca untuk mendukung analisis hingga deteksi dini terhadap potensi bencana banjir secara real-time.


Pada Flood Forecasting and Early Warning System terdapat beberapa elemen kunci yang menjadi syarat fundamental agar sistem prakiraan dan peringatan dini banjir dapat berfungsi dengan optimal. Salah satu elemen yang dibutuhkan adalah data terkait hidrologi, meteorologi, topografi, hingga kondisi sosial dan struktur di lingkungan masyarakat.


Dalam skema diimplementasikan untuk Flood Forecasting and Early Warning System, setidaknya terdapat beberapa bagian yang meliputi:


  1. Data

Sebagai bagian fundamental untuk dijadikan pertimbangan dan input, data memegang peran penting dalam kelangsungan Flood Forecasting and Early Warning System. Adapun data yang dijadikan sebagai pertimbangan dan rujukan dapat meliputi data karakteristik DAS, data meteorologi, data topografi dan geometri, data pasang surut, data hidrologi, hingga data infrastruktur sumber daya air.


  1. Model dan Sistem

Dalam bagian ini setidaknya akan terbagi ke dalam beberapa fase ataupun tahapan yang meliputi pemantauan (monitoring), analisis (forecasting), pemberitahuan (notification), pengambilan keputusan (decision making), peringatan (warning), tindakan (action - mitigation). 


Implementasi menggunakan machine learning hingga hydrodynamic modelling pada Flood Forecasting and Early Warning System juga berperan untuk melakukan analisis hingga pengukuran terhadap tinggi muka air, peta genangan, hingga perkiraan waktu puncak banjir.


  1. Output Informasi

Informasi berupa tinggi muka air (TMA), peta area tergenang, dan lama genangan adalah beberapa output informasi yang akan dijadikan pertimbangan untuk setiap tindakan.


  1. Sistem Peringatan Dini Banjir

Dengan mempertimbangkan hasil analisis yang dihasilkan oleh aktivitas pemantauan berkelanjutan pada tinggi muka air, sistem peringatan dini banjir akan menindaklanjuti setiap informasi yang diterima. Hal ini juga akan menentukan setiap jenis peringatan yang berisi tentang rekomendasi tindakan evakuasi jika diperlukan.


  1. Respon

Dalam hal ini, segala bentuk respon akan merujuk pada peringatan dan pemberitahuan yang sudah didistribusikan oleh sistem peringatan dini baik melalui sirine ataupun broadcast ke smartphone.


  1. Evaluasi dan Penanganan

Tahapan terakhir dari skema dalam Flood Forecasting and Early Warning System adalah pada segi evaluasi serta penanganan. Pada tiap kejadian bencana, tahapan ini tidak hanya fokus pada pemulihan pasca kejadian bencana akan tetapi juga menjadi evaluasi untuk menentukan tindakan hingga arah kebijakan terkait sistem peringatan dini. Baik untuk proses rehabilitasi maupun rekonstruksi hingga perencanaan terkait analisis atau kajian lingkungan untuk memetakan berbagai potensi bencana berbasis data.


Ground Station Flood Forecasting and Early Warning System

Ground stations adalah bagian dari integrasi untuk mendukung berbagai aktivitas telemetri atau pemantauan lingkungan yang dibutuhkan untuk efektivitas Flood Forecasting and Early Warning System atau penguatan untuk sistem prakiraan dan peringatan dini banjir. Dalam implementasinya, keberadaan ground stations bertujuan untuk melakukan pemantauan berbagai parameter.


Sebagai langkah dan strategi untuk mitigasi risiko terhadap kejadian bencana banjir terdapat beberapa parameter yang dilakukan pemantauan berkelanjutan. Dalam hal ini secara khusus aspek hidrologi berkaitan erat dengan operasional Flood Forecasting and Early Warning System. Untuk itu pula terdapat ground station yang berupa pos klimatologi, pos duga air, hingga pos curah hujan. Masing-masing pos tersebut berfungsi tidak hanya untuk melakukan pemantauan secara real-time namun juga menjadi analisis untuk data prakiraan.


Implementasi Flood Early Warning System di Indonesia

Flood Early Warning System atau sistem peringatan dini banjir di Indonesia sangat diperlukan untuk meningkatkan faktor keamanan dan keselamatan ketika dihadapkan pada potensi kejadian bencana banjir. Terlebih lagi, secara statistik bencana banjir masih mendominasi angka kejadian bencana di Indonesia.


Untuk itu pula kemudian pendekatan berbasis teknologi dan metode ilmiah untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis pada data, inovasi pada Flood Early Warning System (FEWS) berbasis teknologi IoT dilakukan. Mertani yang telah lama hadir sebagai penyedia berbagasi solusi berbasis teknologi IoT berhasil mengembangkan Flood Early Warning System. Bahkan lebih dari itu, Mertani juga telah mengimplementasikan Flood Forecasting and Early Warning System dengan dukungan data hasil dari pemantauan pada pos klimatologi, pos curah hujan, dan pos duga air. 


Integrasi berbagai jenis sensor, pemantauan, hingga analisis berbagai parameter lingkungan telah kami kembangkan untuk memperkuat mitigasi risiko terhadap potensi banjir melalui prakiraan cuaca hingga 6 hari ke depan. Bahkan tidak hanya itu, dengan adanya kolaborasi dengan profesional dan lintas disiplin ilmu pada pengembangan Flood Early Warning System Mertani juga mampu memetakan titik tergenang hingga total luas area tergenang ketika terjadi bencana banjir. 


Dengan demikian, implementasi Flood Early Warning System oleh Mertani mampu menekan potensi risiko terhadap korban jiwa secara terukur melalui proses evakuasi dini yang efektif dengan berbasis pada real-time monitoring dan data forecasting di lapangan.


Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of Things (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website: mertani.co.id 

Linkedin : PT Mertani


Sumber:


Pop up bawah Maret.png
WhatsApp

Contact Us

Get special offers tailored to your needs!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

Thanks for submitting!

bottom of page