top of page

Air Tercemar di Sekitar Kawasan Industri: Ancaman Nyata bagi Kesehatan Masyarakat

Air tercemar di sekitar kawasan industri umumnya bersumber dari limbah cair yang dibuang tanpa melalui proses pengolahan yang sesuai standar lingkungan. Limbah ini mengandung zat kimia berbahaya, logam berat, dan bahan toksik yang mudah meresap ke sungai maupun air tanah. Kondisi tersebut secara perlahan menurunkan kualitas air yang selama ini dimanfaatkan masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari.


Berdasarkan data KLHK tahun 2024, sektor industri menyumbang sekitar 45% beban pencemaran air nasional yang berdampak luas. Di Indonesia, terutama Jawa Barat dengan ribuan pabrik aktif, pencemaran air menjadi masalah serius. Degradasi ekosistem perairan semakin parah dan meningkatkan risiko kesehatan, seperti penyakit kulit, gangguan pencernaan, hingga paparan zat berbahaya jangka panjang.


Sumber Pencemaran Air dari Aktivitas Industri

Aktivitas industri seperti tekstil, makanan dan minuman, logam, serta farmasi menghasilkan limbah cair yang mengandung logam berat seperti timbal, merkuri, dan kromium. Selain itu, limbah juga membawa zat pewarna sintetis serta senyawa organik toksik dengan nilai BOD dan COD tinggi. Kandungan ini sangat berbahaya karena dapat menurunkan kualitas air secara drastis dan mengganggu keseimbangan ekosistem perairan di sekitarnya.


Di Karawang, sungai-sungai seperti Sungai Cilamaya tercemar limbah industri yang berdampak serius pada lingkungan sekitar. Pencemaran ini merusak tambak masyarakat hingga seluas 930 hektar dan menyebarkan zat beracun melalui arus air. Kondisi tersebut diperparah oleh minimnya Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), sehingga banyak pabrik membuang limbah langsung ke sungai di kawasan industri padat.


Water Quality Monitoring System (WQMS) untuk memantau parameter kualitas air secara real-time dan memastikan limbah yang dilepas tetap aman.
Sumber: Pribadi

Dampak Kesehatan Jangka Pendek dan Panjang

Paparan air tercemar memberikan dampak kesehatan jangka pendek yang langsung dirasakan masyarakat. Gangguan seperti diare, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), gatal pada kulit, serta iritasi mata dan saluran pernapasan sering muncul. Risiko ini meningkat saat musim hujan karena limpasan limbah industri dan domestik memperparah pencemaran, sehingga kualitas air semakin menurun dan mudah terpapar manusia.


Dalam jangka panjang, kandungan logam berat seperti timbal dan merkuri dalam air tercemar dapat terakumulasi di dalam tubuh. Zat berbahaya ini mengganggu fungsi sistem saraf, ginjal, dan hati. Selain itu, paparan kronis meningkatkan risiko kanker akibat akumulasi toksin dalam rantai makanan yang terus dikonsumsi oleh manusia.


Tanggung Jawab Industri dalam Pengelolaan Limbah

Industri memiliki tanggung jawab besar dalam mengelola limbah agar tidak mencemari lingkungan sekitar. Pengolahan limbah cair wajib dilakukan sesuai baku mutu sebelum dibuang ke badan air. Penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang optimal perlu didukung dengan Water Quality Monitoring System (WQMS) untuk memantau parameter kualitas air secara real-time dan memastikan limbah yang dilepas tetap aman.


Selain aspek teknis, tanggung jawab industri juga mencakup komitmen terhadap keberlanjutan dan kepatuhan regulasi lingkungan. Pemanfaatan WQMS membantu industri melakukan pemantauan berkelanjutan, pelaporan data yang transparan, serta deteksi dini potensi pencemaran. Dengan dukungan teknologi ini, industri dapat menekan risiko pencemaran, meningkatkan akuntabilitas, serta menjaga kepercayaan masyarakat dan kelestarian ekosistem perairan.


Peran Pemerintah dalam Pengawasan Kualitas Air

Pemerintah memiliki peran strategis dalam mengawasi kualitas air guna melindungi kesehatan masyarakat dan kelestarian lingkungan. Pengawasan dilakukan melalui penetapan baku mutu air, perizinan pembuangan limbah, serta inspeksi rutin ke kawasan industri. Langkah ini bertujuan memastikan setiap aktivitas industri mematuhi regulasi lingkungan dan tidak membuang limbah berbahaya ke sungai maupun sumber air warga.


Selain pengawasan langsung, pemerintah juga berperan dalam pemanfaatan teknologi dan penguatan sistem pelaporan. Penerapan sistem pemantauan kualitas air berbasis data membantu pemerintah memperoleh informasi secara akurat dan berkelanjutan. Dengan data yang transparan, pemerintah dapat mengambil tindakan cepat, memberikan sanksi tegas, serta menyusun kebijakan yang lebih efektif untuk mencegah pencemaran air.


Pencemaran air akibat aktivitas industri menimbulkan ancaman kesehatan akut bagi masyarakat sekitar, mulai dari gangguan pencernaan hingga paparan zat berbahaya. Kondisi ini dapat dicegah melalui sinergi antara industri, pemerintah, dan masyarakat dalam pengelolaan limbah. Industri perlu bertanggung jawab mengolah limbah, sementara pemerintah berperan memastikan kepatuhan terhadap regulasi lingkungan yang berlaku.


Selain itu, pemanfaatan Water Quality Monitoring System (WQMS) menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan pencemaran air. Teknologi ini memungkinkan pemantauan kualitas air secara real-time dan berkelanjutan. Dengan penguatan regulasi serta dukungan teknologi pemantauan yang akurat, ketersediaan air bersih yang aman dan berkelanjutan dapat terjaga untuk kebutuhan masyarakat saat ini dan mendatang. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of Things (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website: mertani.co.id 

Linkedin : PT Mertani


Sumber:


Pop up bawah Maret.png
WhatsApp

Contact Us

Get special offers tailored to your needs!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

Thanks for submitting!

bottom of page