top of page

Perubahan Iklim dan Meningkatnya Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Indonesia menunjukkan tren peningkatan signifikan bencana hidrometeorologi sejak 2010 hingga 2025, dengan banjir dan tanah longsor mendominasi lebih dari 90 persen kejadian.
Sumber: shopequo.com

Indonesia menunjukkan tren peningkatan signifikan bencana hidrometeorologi sejak 2010 hingga 2025, dengan banjir dan tanah longsor mendominasi lebih dari 90 persen kejadian. Pola ini mencerminkan meningkatnya kerentanan wilayah terhadap dinamika cuaca ekstrem. Frekuensi kejadian yang terus naik menandakan bahwa risiko bencana tidak lagi bersifat insidental, melainkan menjadi fenomena yang berulang dan sistemik.


Memasuki awal 2026, BNPB mencatat 140 kejadian bencana alam yang sebagian besar merupakan bencana hidrometeorologi, tersebar hampir di seluruh provinsi. Data BMKG selama 16 tahun terakhir menunjukkan keterkaitan erat antara peningkatan suhu global dan perubahan iklim. Kondisi ini memicu ancaman bencana berskala luas, melampaui batas lokal dan menuntut respons adaptif yang lebih terintegrasi.


Gambaran Tren Peningkatan Bencana Hidrometeorologi di Indonesia

Indonesia dalam beberapa dekade terakhir menunjukkan tren peningkatan bencana hidrometeorologi yang semakin jelas, terutama banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. Peningkatan ini terjadi hampir di seluruh wilayah, baik perkotaan maupun pedesaan, seiring perubahan pola curah hujan dan meningkatnya intensitas kejadian ekstrem. Kondisi tersebut menandakan bahwa risiko bencana hidrometeorologi tidak lagi bersifat musiman, melainkan berlangsung secara berulang dan meluas.


Tren peningkatan bencana hidrometeorologi juga mencerminkan akumulasi berbagai faktor, mulai dari perubahan iklim global hingga tekanan aktivitas manusia terhadap lingkungan. Alih fungsi lahan, degradasi daerah aliran sungai, serta pertumbuhan kawasan terbangun memperparah dampak hujan ekstrem. Akibatnya, kapasitas lingkungan dalam menyerap air menurun, sehingga potensi banjir dan longsor meningkat dan memperbesar kerugian sosial, ekonomi, serta lingkungan.


Perubahan Pola Hujan, Suhu, dan Cuaca Ekstrem

Perubahan iklim mendorong pola hujan yang semakin ekstrem, ditandai curah hujan harian melebihi 150 mm di wilayah seperti Sumatra Selatan, Jawa, dan Papua. Kondisi ini dipicu oleh suhu permukaan laut yang memengaruhi pembentukan awan hujan. Intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat meningkatkan risiko banjir, longsor, serta gangguan terhadap infrastruktur dan aktivitas masyarakat.


Selain itu, kenaikan suhu udara secara eksponensial memperkuat efek Clausius-Clapeyron, di mana udara hangat mampu menampung lebih banyak uap air. Fenomena ini menyebabkan potensi hujan lebat semakin besar. Faktor iklim global seperti ENSO, MJO, dan IOD turut memperburuk variabilitas cuaca, memicu kejadian ekstrem seperti gelombang panas, hujan intens, dan banjir parah yang terjadi semakin sering.


Dampak Langsung Terhadap Banjir, Longsor, dan Kekeringan

Perubahan iklim secara langsung memicu meningkatnya kejadian banjir melalui curah hujan tinggi yang melampaui kapasitas sistem drainase. Kondisi ini juga menyebabkan tanah longsor akibat erosi pada lereng yang jenuh air, serta memicu kekeringan saat musim kering ekstrem. Ketidakstabila iklim tersebut memperbesar risiko bencana hidrometeorologi yang berdampak luas terhadap keselamatan masyarakat dan keberlanjutan lingkungan.


Memasuki awal 2026, hujan ekstrem dengan potensi melebihi 500 mm per bulan di wilayah Jawa dan Sumatra meningkatkan risiko korban jiwa dan kerugian ekonomi. Dampak ini terlihat dari meningkatnya insiden banjir di kawasan Jabodetabek serta longsor di berbagai daerah. Kondisi tersebut turut mengganggu produktivitas pertanian dan memperparah krisis lingkungan yang dipicu oleh pemanasan global.


Perubahan iklim secara langsung memicu meningkatnya kejadian banjir melalui curah hujan tinggi yang melampaui kapasitas sistem drainase.
Sumber: BMKG.com

Kebutuhan Pemantauan Risiko Berbasis Data Real-Time

Pemantauan risiko bencana berbasis data real-time menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya intensitas cuaca ekstrem. Informasi cuaca yang diperoleh secara cepat dan akurat memungkinkan pihak terkait melakukan analisis dini terhadap potensi bahaya. Tanpa dukungan data real-time, pengambilan keputusan cenderung bersifat reaktif. Oleh karena itu, sistem pemantauan yang berkelanjutan diperlukan untuk meningkatkan kesiapsiagaan dan mengurangi dampak bencana hidrometeorologi.


Automatic Weather Station (AWS) berperan penting dalam menyediakan data cuaca real-time seperti curah hujan, suhu udara, kelembapan, dan kecepatan angin. Data ini dapat dimanfaatkan untuk memantau perubahan kondisi atmosfer secara kontinu. Dengan integrasi AWS ke dalam sistem peringatan dini, potensi risiko dapat terdeteksi lebih awal, sehingga langkah mitigasi dan respons darurat dapat dilakukan secara lebih tepat, cepat, dan berbasis data yang andal.


Peran Teknologi Peringatan Dini dalam Perubahan Iklim

Teknologi peringatan dini memegang peran penting dalam upaya adaptasi terhadap perubahan iklim yang memicu peningkatan bencana hidrometeorologi. Sistem ini memungkinkan deteksi awal terhadap potensi bahaya melalui pemantauan data cuaca dan lingkungan secara real-time. Informasi yang cepat dan akurat membantu pemerintah serta masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan, sehingga dampak bencana dapat diminimalkan dan keselamatan publik lebih terjamin.


Teknologi peringatan dini mendukung pengambilan keputusan berbasis data untuk respons yang lebih efektif. Integrasi sensor, sistem komunikasi, dan analisis data memungkinkan peringatan disebarkan tepat waktu kepada pihak terdampak. Dengan demikian, masyarakat memiliki kesempatan untuk melakukan tindakan pencegahan, menyesuaikan aktivitas, dan memperkuat ketahanan wilayah terhadap risiko iklim yang semakin kompleks.


Mertani telah lama hadir menjadi mitra terbaik dalam menghadirkan solusi untuk sistem pemantauan cuaca untuk kebutuhan agribisnis.
Sumber: Pribadi

Mertani telah lama hadir menjadi mitra terbaik dalam menghadirkan solusi untuk sistem pemantauan cuaca untuk kebutuhan agribisnis. Melalui sistem yang terintegrasi dengan berbagai jenis sensor, perangkat Automatic Weather Station (AWS) yang dimiliki oleh Mertani dapat memantau kondisi cuaca di kawasan perkebunan selama 24 jam non stop secara otomatis. Dengan demikian, informasi cuaca yang didapatkan secara real-time sangat akurat dan bermanfaat sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of Things (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website: mertani.co.id 

Linkedin : PT Mertani


Sumber:

Comments


Pop up bawah Maret.png
WhatsApp

Contact Us

Get special offers tailored to your needs!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

Thanks for submitting!

bottom of page