Cuaca Panas dan Kering, Seberapa Besar Pengaruhnya terhadap Risiko Karhutla?

Cuaca panas dan kering bukan sekadar membuat udara terasa lebih gerah. Kondisi tersebut juga dapat membuat tanah dan vegetasi kehilangan kelembapan sehingga lebih mudah terbakar ketika terdapat sumber api.
Karena itu, perubahan cuaca dan karhutla memiliki keterkaitan yang perlu diperhatikan, terutama ketika periode kering berlangsung cukup lama. Pemantauan kondisi cuaca dapat membantu mengenali peningkatan risiko sejak lebih awal.
Kondisi Cuaca Saat Risiko Karhutla Meningkat
Risiko karhutla cenderung meningkat ketika curah hujan rendah dan kondisi kering berlangsung dalam waktu yang panjang. Vegetasi seperti rumput, daun, ranting, dan sisa tanaman dapat mengering sehingga menjadi bahan yang lebih mudah terbakar.
Kondisi tersebut semakin perlu diwaspadai ketika disertai angin yang mendukung penyebaran api. BMKG menggunakan sejumlah parameter cuaca untuk menggambarkan tingkat potensi dan kemudahan penyebaran karhutla.
Suhu Udara dan Kelembapan
Suhu udara menjadi salah satu unsur cuaca yang memengaruhi kondisi lingkungan. Suhu yang tinggi dapat berkaitan dengan meningkatnya kehilangan air, sementara kelembapan yang rendah membuat lingkungan dan vegetasi lebih cepat mengalami kekeringan.
Ketika kelembapan lahan dan vegetasi terus menurun, bahan-bahan kering di permukaan menjadi lebih mudah terbakar. Kondisi ini dapat meningkatkan kerentanan wilayah apabila terdapat sumber api dari aktivitas manusia maupun faktor lainnya.
Hubungan Cuaca Kering dengan Kondisi Lahan
Cuaca kering yang berlangsung lama membuat pasokan air ke tanah dan vegetasi semakin berkurang. Semakin panjang periode tanpa hujan, semakin besar kemungkinan bahan organik di permukaan mengalami kekeringan.
BMKG menggunakan indikator seperti Drought Code untuk menggambarkan tingkat kekeringan bahan organik di lapisan bawah permukaan tanah. Kondisi kekeringan tersebut dapat menjadi salah satu informasi dalam melihat potensi bahaya karhutla.
Perubahan Cuaca dari Waktu ke Waktu
Kondisi cuaca tidak selalu sama setiap hari. Suhu, hujan, angin, dan kelembapan dapat mengalami perubahan dalam waktu yang relatif singkat sehingga kondisi suatu wilayah perlu dipantau secara berkala.
Selain perubahan harian, data jangka panjang juga penting untuk melihat pola perubahan curah hujan. BMKG menganalisis data observasi periode 1981–2025, termasuk perubahan curah hujan tahunan, hari hujan, dan indikator hari kering.
Pentingnya Data Cuaca untuk Mitigasi
Data cuaca membantu memberikan gambaran mengenai kondisi lingkungan yang dapat mendukung terjadinya karhutla. Informasi mengenai suhu, kelembapan, curah hujan, dan angin dapat digunakan sebagai bahan untuk meningkatkan kewaspadaan dan menentukan langkah mitigasi.

Salah satu alat yang dapat digunakan adalah AWS (Automatic Weather Station). AWS mengukur berbagai parameter secara otomatis, seperti suhu udara, kelembapan, curah hujan, arah dan kecepatan angin, serta tekanan udara sehingga kondisi cuaca dapat dipantau secara lebih teratur.
Cuaca panas dan kering dapat meningkatkan risiko karhutla karena membuat tanah serta vegetasi kehilangan kelembapan. Risiko tersebut semakin perlu diperhatikan ketika periode tanpa hujan berlangsung lama dan kondisi angin mendukung penyebaran api.
Melalui pemantauan menggunakan AWS, perubahan kondisi cuaca dapat diketahui berdasarkan data yang tercatat secara otomatis. Data tersebut dapat menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan kewaspadaan dan mendukung mitigasi karhutla. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of Things (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:
Website: mertani.co.id
YouTube: mertani official
Instagram: @mertani_indonesia
Linkedin : PT Mertani
Tiktok : mertaniofficial
Sumber:
https://www.idntimes.com/science/discovery/risiko-karhutla-meningkat-saat-kemarau-kenapa-c1c2-01-4ys1c-l2375f https://ugm.ac.id/id/berita/pentingnya-memahami-cuaca-dan-pengaruhnya-ke-pertanian/






Comments