top of page

Kebakaran Lahan Mengancam Kualitas Air di Sekitar Area Terdampak

Kualitas Air
Sumber: Mertani

Kebakaran lahan tidak hanya meninggalkan asap dan kerusakan vegetasi. Dampaknya dapat berlanjut hingga ke sumber air di sekitar lokasi ketika abu, sisa pembakaran, tanah, dan material organik terbawa air hujan menuju sungai, danau, maupun saluran air.


Kondisi tersebut membuat dampak kebakaran lahan terhadap kualitas air perlu menjadi perhatian. Perubahan kualitas air dapat terjadi secara bertahap sehingga pemantauan menjadi penting untuk mengetahui kondisi perairan setelah kebakaran.


Abu dan Sisa Pembakaran yang Masuk ke Badan Air

Setelah kebakaran, permukaan lahan kehilangan sebagian vegetasi dan bahan organik yang sebelumnya membantu melindungi tanah. Ketika hujan turun, abu dan sisa pembakaran dapat terbawa sebagai aliran permukaan menuju badan air di sekitar area terdampak.


Material hasil pembakaran tersebut dapat meningkatkan jumlah partikel yang masuk ke perairan. Selain membuat air lebih keruh, material tersuspensi juga dapat membawa berbagai unsur dan senyawa dari tanah maupun sisa pembakaran sehingga berpotensi memengaruhi karakteristik air.


Perubahan Karakteristik Air Setelah Kebakaran Lahan

Masuknya material dari lahan terbakar dapat menyebabkan perubahan pada sejumlah parameter kualitas air. Parameter seperti pH, TSS, kekeruhan, DO, BOD, dan COD dapat digunakan untuk melihat perubahan kondisi perairan dan mengetahui apakah terjadi penurunan kualitas.


Dampak tersebut tidak selalu terlihat hanya dari perubahan warna air. Beberapa perubahan berlangsung pada tingkat kimia dan fisik sehingga membutuhkan pengukuran untuk mengetahuinya secara lebih akurat. Karena itu, pemeriksaan kualitas air setelah kebakaran sebaiknya tidak hanya dilakukan secara visual.


Peningkatan Sedimen dan Material Organik

Kebakaran menghilangkan vegetasi yang berperan dalam melindungi permukaan tanah dari erosi. Ketika hujan turun, tanah yang lebih terbuka akan lebih mudah mengalami erosi dan materialnya terbawa menuju sungai atau badan air sehingga meningkatkan beban sedimen.


Peningkatan sedimen dapat menyebabkan kekeruhan dan pendangkalan pada badan air. Konsentrasi sedimen yang tinggi juga dapat mengganggu kondisi ekosistem perairan serta memengaruhi fungsi sungai, waduk, dan saluran air di wilayah hilir.


Dampak terhadap Ekosistem dan Sumber Air

Perubahan kualitas air dapat memberikan tekanan terhadap organisme yang hidup di dalamnya. Kekeruhan, perubahan oksigen terlarut, serta perubahan karakteristik kimia air dapat memengaruhi kondisi habitat dan kehidupan biota perairan.


Bagi masyarakat, kondisi tersebut juga perlu diperhatikan apabila badan air digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, pertanian, perikanan, atau aktivitas lainnya. Penurunan kualitas air akibat kebakaran dapat membuat pengelolaan dan pemanfaatan sumber air membutuhkan perhatian lebih besar.


Pentingnya Pemantauan Kualitas Air Secara Real-Time

Pemantauan berkala dapat membantu mengetahui perubahan kualitas air setelah terjadinya kebakaran. Namun, pengukuran manual yang dilakukan pada waktu tertentu berpotensi melewatkan perubahan kondisi yang terjadi di antara waktu pengambilan sampel.


WQMS
Sumber: Mertani

Karena itu, penggunaan WQMS (Water Quality Monitoring System) dapat menjadi bagian dari pemantauan yang lebih responsif. Sistem ini memungkinkan parameter kualitas air dipantau secara kontinu dan data dapat dikirimkan secara real-time sehingga perubahan kondisi air dapat diketahui lebih cepat.


WQMS Membantu Mendeteksi Perubahan Kualitas Air Lebih Cepat

Water Quality Monitoring System (WQMS) merupakan sistem pemantauan kualitas air yang menggunakan sensor untuk mengukur parameter tertentu secara otomatis. Parameter yang dapat dipantau antara lain pH, suhu, Dissolved Oxygen (DO), TDS, konduktivitas, dan kekeruhan, tergantung konfigurasi perangkat yang digunakan.


Data hasil pengukuran dapat dikirimkan melalui sistem komunikasi dan ditampilkan pada dashboard sehingga kondisi air dapat dipantau dari jarak jauh. Dengan data real-time, perubahan kualitas air dapat lebih cepat diketahui dan menjadi dasar untuk menentukan tindakan lanjutan di area terdampak.


Menjaga Kualitas Air Setelah Kebakaran

Kebakaran lahan seharusnya tidak hanya dilihat dari luas area yang terbakar. Dampaknya dapat berlanjut ketika hujan membawa abu, tanah, sedimen, dan material organik menuju badan air sehingga kualitas sumber air di sekitar lokasi ikut terancam. Pemantauan kualitas air secara berkala dan real-time menjadi langkah penting untuk memahami kondisi perairan setelah kebakaran.


Dengan dukungan WQMS, perubahan parameter air dapat diketahui lebih cepat sehingga pengelolaan sumber daya air dapat dilakukan berdasarkan data, bukan hanya pengamatan secara visual. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of Things (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website: mertani.co.id 

Linkedin : PT Mertani


Sumber:



Comments


SPARING - Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah Secara Terus Menerus dan Dalam jaringan
WhatsApp

Contact Us

Get special offers tailored to your needs!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

bottom of page