top of page

Pupuk Anorganik: Pengertian, Sifat, dan Cara

Gambar 1. (Sumber: puan.my.id)

Pupuk anorganik atau pupuk sintetis merupakan pupuk yang dihasilkan dari serangkaian proses kimia atau penggunaan bahan kimia, sehingga dalam penggunaannya harus tepat dosis dan terukur. Pupuk anorganik tersebut tersedia dalam pupuk majemuk dan pupuk tunggal. Menurut Permentan No. 43 tahun 2011, pupuk anorganik adalah pupuk hasil proses rekayasa secara kimia, fisik dan/atau biologis, dan merupakan hasil industri atau pabrik pembuat pupuk. Formula pupuk anorganik adalah kandungan senyawa dari unsur hara utama atau unsur hara mikro dan mikroba. Rekayasa formula pupuk dapat dilakukan dengan kegiatan rekayasa baik secara kimiawi, fisik dan/atau biologis untuk menghasilkan formula pupuk. Pada pupuk anorganik, karena sudah terukur dosisnya maka nutrisi yang dihasilkan dapat langsung diserap oleh tanaman. Tetapi kelemahannya adalah adanya bahan kimia yang terkandung pada pupuk anorganik menghasilkan residu yang dapat merusak tanah dan mematikan organisme yang ada di dalam tanah, sehingga dalam penggunaannya harus terukur secara efisien dan efektif. Pengaruh pupuk anorganik bagi lingkungan khususnya pada tanah dapat memberikan dampak negatif bila dilakukan terus menerus karena dapat berakibat negatif pada perkembangan mikroorganisme dalam tanah yaitu banyak yang mati sehingga mikroorganisme tersebut tidak lagi dapat menguraikan bahan organik di dalam tanah yang akibatnya sisa-sisa pupuk tidak terserap oleh akar tanaman akan terakumulasi di dalam tanah dan memengaruhi kondisi tanah menjadi mengeras, bergumpal, dan pH menurun. Dalam waktu yang panjang tanah akan tandus dan sulit dikembalikan unsur haranya. Tanah yang tandus akibat penggunaan pupuk kimia, membutuhkan waktu ratusan tahun untuk mengembalikan unsur haranya.

Gambar 2. (Sumber: Dinosgrow.com)

Pupuk anorganik memiliki keunggulan seperti ketersediaan yang cukup dan kandungan unsur hara yang tinggi. Namun, pupuk anorganik juga memiliki kelemahan seperti kurangnya unsur hara mikro dan dampak negatif pada lingkungan. Oleh karena itu, dalam pemilihan pupuk, perlu mempertimbangkan sifat-sifat dari pupuk anorganik, serta memerhatikan kebutuhan tanaman dan dampaknya terhadap lingkungan. Berikut merupakan beberapa sifat dari pupuk anorganik:


1. Kandungan Unsur Hara atau Analisis Pupuk

Kadar unsur hara tertentu yang terkandung pada pupuk jenis ini disebut dengan analisis pupuk. Untuk kadar unsur hara makro dinyatakan dalam satuan persen, sedang kadar unsur hara mikro nyatakan dalam satuan ppm (part per million atau persejuta). Analisa pupuk ini selalu tertera pada kemasan pupuk tersebut. Jenis unsur hara yang dikandung suatu pupuk tidak dinyatakan sebagai unsur tunggal tetapi dinyatakan dalam persentase total N (total amonium dan nitrat), P2O5 dan K2O. Jenis pupuk yang sama belum tentu mengandung analisa yang sama. Contohnya adalah Urea (46% N), SP-36 (36% P2O5), KCl (60% K2O) dll kita jumlahkan seluruh angka presentase pada analisis pupuk majemuk, maka angka ini tidak pernah akan mencapai 100%. Penyebabnya adalah di dalam pupuk terdapat unsur kimia lain yang bukan unsur hara tetapi keberadaannya diperlukan supaya bahan pupuk dapat dibentuk menjadi kristal atau butiran-butiran.


2. Higroskopisitas

Higroskopis adalah sifat pupuk yang berkaitan dengan potensinya atau kemampuannya untuk mengikat uap air dari udara bebas. Suatu pupuk dikatakan sangat bersifat higroskopis adalah bila ditempatkan pada tempat terbuka mudah sekali mencair. Urea adalah salah satu contoh yang bersifat higroskopis. Sifat higroskopis ini sangat menentukan daya simpan dan penanganan penyimpanan pupuk tersebut. Misalnya pupuk yang bersifat higroskopis sebaiknya tidak disimpan terlalu lama dan harus disimpan dalam wadah yang kedap udara.


3. Daya Larut

Daya larut adalah merupakan kemampuan suatu jenis pupuk untuk terlarut di dalam air. Daya larut ini akan menentukan cepat atau lambat unsur hara yang ada di dalam pupuk untuk dapat diserap tanaman atau hilang karena pencucian. Jenis pupuk dengan daya larut yang tinggi akan cepat tersedia serta mudah diserap oleh tanaman, namun juga akan mudah tercuci oleh hujan atau pengairan. Pada umumnya pupuk yang memiliki kandungan Nitrogen yang tinggi mempunyai daya larut yang tinggi pula.


4. Reaksi Pupuk

Reaksi pupuk adalah bila suatu jenis pupuk diberikan pada tanah, maka pH tanah dapat berubah menjadi lebih tinggi atau lebih rendah. Jenis pupuk yang menyebabkan pH tanah menurun, maka pupuk tersebut bereaksi asam terhadap tanah. Bila Jenis pupuk yang menyebabkan pH tanah naik, maka jenis pupuk tersebut bereaksi basa terhadap tanah. Secara umum, pupuk yang beredar dipasaran, menyebabkan pH tanah turun. Artinya, reaksi tanah bersifat asam kepada pupuk yang diberikan.


5. Indek Garam (Salt Index)

Pemberian pupuk pada tanah akan meningkatkan konsentrasi atau kadar garam di dalam larutan tanah. Peningkatan kadar/konsentrasi garam dalam tanah ini akan menaikkan tekanan osmosis larutan tanah. Larutan tanah dengan osmosis yang tinggi dapat menyebabkan larutan unsur hara tidak dapat diserap oleh tanaman, tetapi sebaliknya yakni cairan sel justru yang akan keluar dari akar atau disebut dengan plasmolisis jaringan akar. Gejala ini disebut dengan Salt.

Dalam melakukan aplikasi pupuk anorganik, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Berikut adalah beberapa cara aplikasi pupuk anorganik:

  1. Aplikasi melalui akar: Semua jenis pupuk, baik organik maupun anorganik, dapat diaplikasikan melalui akar tanaman. Pupuk ini berfungsi sebagai penyerap unsur hara bagi tanaman

  2. Top dressing: Metode ini melibatkan penyebaran pupuk di sekitar tanaman dengan cara menyebarkannya secara merata di atas permukaan tanah. Pupuk kemudian akan diserap oleh akar tanaman saat disiram atau hujan mengalir

  3. Side dressing: Pupuk ditempatkan di sebelah samping tanaman, biasanya dalam bentuk garis atau parit. Ini memungkinkan akar tanaman untuk menyerap pupuk secara efisien

  4. Banding: Pupuk ditempatkan dalam lubang atau parit yang berdekatan dengan akar tanaman. Ini memungkinkan pupuk untuk lebih dekat dengan akar dan meningkatkan penyerapan unsur hara

  5. Foliar spray: Pupuk dilarutkan dalam air dan disemprotkan langsung ke daun tanaman. Metode ini memungkinkan penyerapan nutrisi melalui daun dan dapat memberikan hasil yang cepat

  6. Fertigasi: Pupuk dilarutkan dalam air irigasi dan diberikan langsung ke akar tanaman melalui sistem irigasi. Ini memungkinkan pupuk untuk diserap secara efisien oleh tanaman

Pemilihan metode aplikasi pupuk anorganik tergantung pada jenis tanaman, kondisi tanah, dan kebutuhan nutrisi tanaman. Penting untuk mengikuti petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan pupuk dan memperhatikan dosis yang tepat agar pupuk dapat memberikan hasil yang optimal. Demikianlah informasi mengenai pupuk anorganik. Apabila anda ingin mengetahui informasi lainnya mengenai perkebunan dan pertanian, anda dapat mengunjungi kami di:


Website: mertani.co.id

Instagram: @mertani_indonesia

Linkedin : PT Mertani


Sumber:

1,966 views0 comments
WhatsApp
bottom of page