top of page

Optimalisasi Hubungan Air-Energi-Pangan Dalam Mendukung Ketahanan Pangan Indonesia


ketahanan pangan - Mertani
Sumber: ( greatermekong.org )

Penulis: Andrianto Ansari


Sebagai negara yang dijuluki negara “agraris” namun beberapa komoditi pokok masih melakukan kebijakan import untuk mencukupi kebutuhan pangan nasional, mengindikasikan Indonesia mengalami ketimpangan antara produksi dan konsumsi dalam negeri. Pasokan rantai pangan dalam negeri sering terhambat oleh “kebijakan” yang terkadang harus memilih antara menyejahterakan petani atau mengendalikan harga pangan di pasar. Contohnya, ketika petani padi menginginkan pemerintah untuk menaikkan harga beras guna menyejahterkan hidup petani sebagai akibat naiknya harga pupuk (berkurangnya/hilangnya subsidi pupuk) dan naiknya upah pekerja, pemerintah mengalami dilematis untuk mewujudkan keinginan tersebut.

beras - Mertani
Sumber: ( redtea.com )

Apabila pemerintah menyetujui kenaikan harga beras misalnya, akan terjadi inflasi besar-besaran dan mengakibatkan ketidakstabilan ekonomi yang bisa berdampak pada meningkatnya isu sosial. Ditambah lagi dengan situasi isu krisis energi dan air yang dipengaruhi oleh perubahan iklim yang mengakibatkan meningkatnya suhu udara dan perubahan pola hujan, berpotensi mengurangi produksi pangan dalam negeri. Oleh sebab itu, diperlukan adanya metode-metode yang tepat untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan menstabilkan perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah optimalisasi hubungan antar tiga komponen pokok dalam produksi pangan yaitu air, energi dan pangan itu sendiri. Namun dalam kenyataannya masih banyak ditemukan kurangnya optimalisasi hubungan air-energi-pangan untuk menghasilkan produk dengan kuantitas dan kualitas tinggi. Tiga komponen tersebut memiliki keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. Misalkan, dalam memproduksi pangan terdapat kebutuhan air dan energi untuk mencapai produksi pangan dengan kuantitas dan kualitas yang bagus. Dalam hal ini, air berperan penting dalam menjaga suhu tanaman dan memenuhi kebutuhan untuk berfotosintesis dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Begitupun dengan energi, sektor ini memiliki peran penting dalam menjalankan berbagai aktivitas dari proses persiapan sampai pemanenan. Sebagai contoh, penggunaan mesin bajak, mesin penyiang, mesin pemanen dll membutuhkan energi baik energi manusia (tenaga kerja) maupun energi fosil. Tetapi, aktivitas-aktivitas tersebut menghasilkan emisi rumah kaca seperti methana (CH4), karbon dioksida (CO2) maupun nitrous oksida (N2O) yang mana berkontribusi dalam proses penipisan lapisan ozon sehingga menyebabkan meningkatnya suhu permukaan bumi.

Air - Mertani
Sumber: ( hobiburung.org )

Penguatan hubungan antara air-energi pangan perlu sejalan dengan kesejahteraan petani serta keberlajutan pertanian. Penambahan add-value dengan memanfaatkan limbah-limbah pertanian menjadi barang yang bermanfaat untuk diri mereka sendiri ataupun lingkungan dapat meningkatkan kesejahteraan petani serta mengurangi produksi emisi rumah kaca. Sebagai contoh, pemanfaatan limbah pertanian seperti seresah, jerami, sekam, tongkol jagung, dll (biomassa) dapat digunakan untuk produksi pupuk organik, biochar, pestisida. Produk-produk tersebut selain dapat digunakan oleh petani sendiri yang mana secara tidak langsung mengurangi ketergantungan bahan-bahan sintetis guna menekan biaya produksi pangan, namun juga bisa dipasarkan sebagai peluang usaha bagi para petani. Di sisi lain, penggunaan bio-based material (bahan-bahan alami) sebagai masukan (input) ke dalam sistem pertanian, dapat mengurangi produksi gas rumah kaca, dibandingkan bahan-bahan sintetis yang bersifat merusak apabila digunakan secara terus menerus dalam jumlah yang banyak. Selain itu, bahan-bahan alami tersebut juga bisa digunakan sebagai sumber energi (bioenergy) dalam bentuk panas, padatan, maupun cairan, yang mana dapat digunakan secara langsung maupun tidak langsung.

Dalam hal air, penggunaan metode-metode irigasi hemat air (drip irrigation, intermittent irrigation dll) dan teknologi pemanenan air hujan (rain harvesting) dapat mengurangi kebutuhan pasokan dan menyimpan cadangan air, guna mengatasi permasalahan keterbatasan air di musim kemarau. Secara tidak langsung, konsep penguatan air-energi-pangan ini dapat meningkatkan ekonomi sirkuler dimana tidak ada bahan yang terbuang baik sejak persiapan sampai penggunaan, sehingga kesejahteraan petani diharapkan dapat meningkat. Namun untuk menyukseskan konsep tersebut, perlu adanya dukungan dan sinergisitas baik pemerintah, lembaga pendidikan serta petani itu sendiri demi mecapai kesejahteraan petani dan keberlanjutan lingkungan. Itulah penjelasan mengenai keterkaitan berbagai elemen yang ada di lingkungan hidup kita, semoga bermanfaat! Temukan informasi menarik lainnya mengenai seputar pertanian pada link berikut ini.


Instagram: @mertani_indonesia

Linkedin : PT Mertani


54 views0 comments

Comments


WhatsApp
bottom of page