• Lilia

Latepost: Pemantauan Tinggi Muka Air Saluran (TMAS) dengan Automatic Water Level di Riau Tahun 2019


Banjir di Lahan Perkebunan sebagai Resiko Manajemen Air yang Kurang Baik
Gambar 1. Banjir di Lahan Perkebunan sebagai Resiko Manajemen Air yang Kurang Baik

Sumber: Benarnews.org

"Kunci manajemen air pada perkebunan adalah membuang air berlebih dan menjaga muka air tanah agar sesuai dengan kebutuhan tanaman"- Majalah Sawit Indonesia, 2014.

Sebagian lahan perkebunan di Indonesia merupakan lahan basah yang membutuhkan manajemen tata air dan input teknologi yang tepat. Kunci manajemen air di perkebunan adalah membuang air berlebih dan menjaga muka air tanah agar sesuai dengan kebutuhan tanaman (Majalah Sawit Indonesia, 2014). Dalam melakukan manajemen tata air, perkebunan perlu memperhatikan berbagai faktor, yaitu faktor tanah, hidrologi, topografi, hingga aspek sosial. Faktor-faktor ini mulai dipertimbangkan dari awal perencanaan pembukaan lahan hingga pengelolaan kebun saat fase TM (Tanaman Menghasilkan).


Gambar 2. Lokasi Pemasangan Automatic Water Level Mertani

Pada bulan Mei 2019, salah satu perkebunan di Riau bekerja sama dengan Mertani untuk menerapkan teknologi monitoring terhadap tinggi muka air saluran (TMAS). Sebelumnya, tinggi muka air saluran dipantau setiap hari secara manual dengan alat ukur berupa mistar. Namun, perolehan data dapat menghabiskan waktu hingga 6 jam, dari pencatatan di lapangan, pelaporan, input data di bagian manajemen, sampai pengolahan data untuk mendapatkan insight. Selain itu, kondisi cuaca ekstrem seperti hujan deras dapat menjadi tantangan tersendiri untuk melakukan pemantauan TMAS di titik yang jauh dari kantor kebun.


Gambar 3. Pemantauan Tinggi Muka Air Saluran (TMAS) dengan Perangkat Mertani (versi tahun 2019)
Gambar 3. Pemantauan Tinggi Muka Air Saluran (TMAS) dengan Perangkat Mertani (versi tahun 2019)

Perangkat Automatic Water Level (AWL) dipasang di titik representatif saluran. Pada saat instalasi, bagian kebun sudah menyiapkan tempat semacam sangkar burung agar lebih aman. AWL dipasang dengan ketinggian sekitar 0,5 m dari titik tertinggi permukaan air saluran dan dapat mengukur TMAS hingga jarak 5 m dari perangkat. Di sebelah tiang penyangga dipasang mistar untuk membantu kalibrasi perangkat.

Perusahaan berharap setelah menggunakan AWL, data TMAS dapat diperoleh dengan tingkat akurasi yang relatif sama dengan mistar namun dengan frekuensi pengambilan data yang lebih tinggi, yaitu setiap 30 menit sekali. Selain itu, insight dari dinamika TMAS dapat diperoleh bagian manajemen dengan lebih cepat. Hal ini disebabkan oleh data TMAS dapat dipantau setiap saat melalui dashboard PC serta dapat diunduh dalam format Excel untuk melakukan pengolahan lebih lanjut.


Gambar 4. Sampel data tinggi muka air saluran pada Mertani Dashboard
Gambar 4. Sampel data tinggi muka air saluran pada Mertani Dashboard

Selanjutnya, tim Mertani akan melakukan pengembangan lebih lanjut untuk perangkat AWL mode TMAS. Diantaranya adalah desain alat yang lebih user friendly, konsumsi daya yang lebih hemat, hingga kemampuan alat yang lebih advance.


CATATAN:

Saat ini, perangkat Automatic Water Level (AWL) Mertani sudah memiliki desain, ketahanan, serta performa yang lebih baik dibanding versi tahun 2019. Cek selengkapnya di sini


Sumber:

Majalah Sawit Indonesia, 2014. Sistem Drainase Perkebunan Kelapa Sawit.


Your Plantation Is In A Good Hand

contact@mertani.co.id

+62 274 2823880

www.mertani.co.id

PT Merapi Tani Instrumen (Mertani)

12 tampilan0 komentar

Postingan Terakhir

Lihat Semua