Menguatkan Peran Warga dalam Adaptasi dan Ketangguhan Bencana Hidrometeorologi
- Marketing Mertani
- 2 days ago
- 3 min read

Bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kekeringan, dan badai kini semakin sering terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Dampak perubahan iklim membuat pola cuaca sulit diprediksi, meningkatkan risiko kerusakan lingkungan, infrastruktur, dan mata pencaharian masyarakat. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga memengaruhi kesejahteraan sosial dan stabilitas pembangunan daerah secara berkelanjutan.
Dalam kondisi keterbatasan sumber daya dan jangkauan pemerintah, keterlibatan aktif warga menjadi faktor penentu keberhasilan adaptasi bencana. Masyarakat dapat berperan melalui peningkatan kesadaran risiko, pengelolaan lingkungan, serta partisipasi dalam sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan lokal. Ketika warga terlibat, komunitas menjadi lebih tangguh, responsif, dan mampu mengurangi dampak bencana secara kolektif.
Peningkatan Bencana Hidrometeorologi dalam Beberapa Tahun Terakhir
Data BMKG menunjukkan tren peningkatan signifikan bencana hidrometeorologi di Indonesia. Pada 2023, tercatat 2.412 kejadian banjir dan longsor, meningkat 12 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kekeringan juga berdampak luas dengan sekitar 1.200 desa di Jawa dan Nusa Tenggara terdampak. Kondisi ini memperlihatkan meningkatnya tekanan iklim terhadap sistem lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Laporan BNPB tahun 2024 mencatat korban jiwa mencapai sekitar 500 orang, dengan jumlah pengungsi melebihi satu juta akibat curah hujan ekstrem. Perubahan iklim global, ditandai kenaikan suhu 1,1 derajat Celsius, mempercepat siklus El Niño dan La Niña. Tanpa adaptasi serius, IPCC memproyeksikan risiko bencana meningkat hingga 50 persen pada 2030.
Mengapa Adaptasi Tanpa Partisipasi Warga Tidak Efektif
Pendekatan adaptasi bencana yang bersifat top-down dari pemerintah kerap menemui kegagalan akibat minimnya pemahaman terhadap kondisi lokal dan keterbatasan anggaran. Meskipun sistem peringatan dini BMKG cukup andal secara teknis, survei BNPB 2024 menunjukkan hanya sekitar 40 persen masyarakat pedesaan yang merespons tepat waktu. Hal ini menandakan adanya kesenjangan antara teknologi dan kesiapan sosial masyarakat.
Pendekatan yang mengabaikan keterlibatan warga juga mengesampingkan pengetahuan lokal, seperti pola tanam adaptif di wilayah rawan kekeringan. Studi UNDRR menegaskan bahwa partisipasi masyarakat dapat meningkatkan efektivitas adaptasi hingga 70 persen. Warga mampu mengenali risiko spesifik di lingkungannya, sehingga tanpa keterlibatan mereka, program rehabilitasi sering gagal berkelanjutan.

Bentuk-Bentuk Partisipasi Masyarakat dalam Mitigasi
Partisipasi warga dalam mitigasi bencana hidrometeorologi dapat diwujudkan melalui langkah-langkah praktis yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pemantauan partisipatif memungkinkan warga melaporkan kondisi cuaca lokal secara real time, sehingga meningkatkan akurasi informasi kebencanaan. Selain itu, pembangunan infrastruktur berbasis komunitas seperti tanggul gotong royong dan reboisasi sungai terbukti efektif menekan risiko banjir.
Upaya lain dilakukan melalui pelatihan kesiapsiagaan mandiri, seperti simulasi evakuasi dan pengelolaan cadangan air saat kekeringan. Warga juga berperan dalam advokasi kebijakan lokal dengan mendorong penataan ruang aman bencana melalui musrenbangdes. Pendekatan ini memperkuat ketangguhan komunitas, memanfaatkan sumber daya lokal, serta mengurangi ketergantungan pada bantuan pemerintah pusat.
Penguatan Kapasitas Komunitas menuju Ketahanan Iklim
Ketangguhan komunitas dapat dibangun melalui penguatan kapasitas yang dilakukan secara berkelanjutan dan terarah. Program pelatihan dari BMKG dan BPBD pada 2024 telah menjangkau sekitar 10.000 kader siaga bencana, dengan fokus pemahaman iklim dan pemanfaatan teknologi sederhana. Upaya ini membantu masyarakat membaca tanda cuaca ekstrem serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi.
Selain pelatihan, pendidikan berbasis sekolah turut mengintegrasikan kurikulum ketahanan iklim dengan materi pemetaan risiko bencana. Akses informasi melalui radio komunitas dan grup WhatsApp mempercepat diseminasi peringatan. Kolaborasi LSM seperti Wahana Visi mendorong diversifikasi tanaman tahan kekeringan, meningkatkan ketahanan pangan hingga 40 persen. Pendekatan ini menjadikan warga aktor utama adaptasi iklim.
Model Tata Kelola Kebencanaan yang Inklusif
Transformasi tata kelola kebencanaan menuju model inklusif menempatkan warga sebagai aktor utama dalam pengambilan keputusan. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 diperkuat melalui Perpres 83 Tahun 2021 yang mendorong pembentukan forum komunikasi lintas sektor. Melalui pendekatan ini, masyarakat dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga evaluasi kebijakan kebencanaan secara partisipatif. Model bottom-up seperti Desa Tangguh Bencana dari BNPB menjadi contoh nyata kolaborasi pemerintah dan warga. Pemanfaatan teknologi memperkuat transformasi tersebut melalui integrasi IoT dan sensor.

Menguatkan peran warga menjadi kunci penting dalam adaptasi bencana hidrometeorologi sekaligus pencapaian ketahanan iklim jangka panjang. Partisipasi aktif masyarakat memungkinkan terbentuknya komunitas yang tangguh, mampu mengenali risiko, serta mengambil langkah pencegahan sejak dini. Pendekatan ini mendorong transformasi tata kelola kebencanaan yang lebih inklusif, responsif, dan selaras dengan kebutuhan lokal di berbagai wilayah rawan bencana.
Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat menjadi fondasi utama untuk mempercepat penguatan peran warga tersebut. Sinergi lintas sektor diperlukan agar inisiatif adaptasi berjalan efektif dan berkelanjutan. Dengan dukungan kebijakan, teknologi, dan kapasitas komunitas, Indonesia dapat membangun ketahanan iklim yang kokoh serta lebih siap menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi di masa depan. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of Things (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:
Website: mertani.co.id
YouTube: mertani official
Instagram: @mertani_indonesia
Linkedin : PT Mertani
Tiktok : mertaniofficial
Sumber:






Comments