top of page

Keutamaan Alat Ukur TMAT Dalam Pengelolaan Ekosistem Gambut

Alat Ukur TMAT mendukung peran penting dalam meningkatkan akuntabilitas dan efektivitas pada upaya perlindungan, pengelolaan, dan pemulihan ekosistem gambut.
Sumber: Pribadi

Gambut hanya memiliki cakupan kurang dari 5% dari total luas permukaan bumi. Namun keberadaan gambut yang cakupannya masih jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan total luas daratan di seluruh dunia justru memegang peran penting bagi lingkungan. Gambut tidak hanya menjadi tempat tinggal bagi flora dan fauna endemik yang dilindungi namun lebih dari itu. Dengan sifat alaminya sebagai sebagai lahan basah, gambut memiliki kemampuan untuk menyimpan air hingga karbon dalam jumlah besar.


Dengan kemampuan untuk menyimpan karbon dalam jumlah besar, gambut juga dihadapkan dengan tantangan untuk menjaga sifat alaminya sebagai lahan basah untuk menyimpan cadangan air saat musim hujan dan merilisnya secara alami di saat musim kemarau tiba. Pemanfaatan gambut untuk berbagai keperluan dan aktivitas di skala domestik hingga industri berpotensi untuk menimbulkan degradasi gambut.


Ketika sifat sebagai lahan basah yang dimiliki oleh gambut hilang dan mengering akan membuatnya menjadi lebih mudah terbakar. Implementasi untuk menggunakan Alat Ukur TMAT (tinggi muka air tanah) menjadi metode dalam meningkatkan pengelolaan, pengawasan, serta mendukung upaya konservasi gambut lebih optimal.


Ekosistem Gambut

Indonesia menjadi salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang menjadi rumah bagi jutaan hektar gambut. Di antara belasan ribu pulau yang membentang, pulau Sumatera, Kalimantan, dan Papua menjadi wilayah persebaran gambut yang total luasnya mencapai 13,43 juta hektar. Dengan total lahan gambut seluas itu, Indonesia merupakan negara yang memiliki gambut tropis terluas di dunia.


Ekosistem lahan gambut juga seringkali disebut dengan ekosistem lahan basah dikarenakan proses pembentukannya yang terbilang kompleks. Dalam proses pembentukan gambut dimulai dari endapan bahan organik seperti reruntuhan vegetasi di atas tanah yang menumpuk dalam jangka waktu panjang. 


Dibalik banyaknya potensi dan manfaat yang diberikan oleh keberadaan ekosistem gambut terdapat pula banyak pertimbangan terhadap upaya konservasi gambut. Konsesi terhadap pengelolaan untuk aktivitas pemanfaatan ekosistem gambut bagi kebutuhan industri perkebunan menjadi satu dari sekian tantangan ekosistem gambut.


Sifat alami gambut yang basah menjadikan keberadaan ekosistem atau lahan gambut sebagai penyimpanan karbon hingga memberi ruang besar dalam menyimpan cadangan air. Namun degradasi lahan gambut akibat konsesi untuk perkebunan dan eksploitasi intensif terhadap pemanfaatan air tanah gambut mengakibatkan dampak yang signifikan.


Pemanfaatan air tanah  secara intensif, tidak adanya akuntabilitas, dan belum optimal dalam aktivitas pemantauan maupun pengukuran tinggi muka air tanah gambut yang mumpuni berpotensi turut memperburuk terhadap minimnya pengelolaan ekosistem gambut. Eksploitasi berlebihan terhadap air tanah gambut memiliki potensi terhadap hilangnya sifat alami gambut yang basah. 


Dampak signifikan terhadap masih lemahnya pemantauan tinggi muka air tanah gambut dengan tingginya intensitas pemanfaatan air tanah pada konsesi perkebunan di lahan gambut salah satunya adalah kebakaran lahan gambut. Jika dibandingkan dalam rentang waktu 2000 - 2010 deforestasi dengan luas mencapai 10 juta hektar menghasilkan 4,5 gigaton emisi karbon. Sedangkan di periode waktu yang sama, kebakaran 6,1 juta hektare lahan gambut menghasilkan emisi karbon 5,6 gigaton.


Tantangan Dalam Perlindungan, Pengelolaan, dan Pemulihan Ekosistem Gambut

Keberadaan ekosistem gambut menghadirkan keanekaragaman hayati yang menjadi rumah bagi flora fauna endemik. Hal ini pula yang kemudian mendorong untuk adanya upaya terhadap perlindungan, pengelolaan, dan pemulihan ekosistem gambut dengan perencanaan yang tepat.


Salah satu potensi ancaman terhadap kemungkinan adanya eskalasi kejadian kebakaran lahan gambut adalah pada saat musim kemarau. Pada saat kemarau tiba, titik panas atau hot spot memiliki peluang untuk meningkat yang dapat berkontribusi terhadap adanya kebakaran lahan. Tingginya kandungan organik yang terdapat dalam lahan gambut dapat menyebabkan kebakaran berlangsung hingga berhari-hari dan dapat terus meluas.


Kondisi ini dikarenakan api tidak hanya membakar material permukaan gambut saja namun juga membakar lapisan gambut pada kedalaman 50 hingga 300 cm di bawah permukaan. Selain adanya pelepasan karbon dalam jumlah besar, saat terjadi kebakaran lahan gambut juga turut menghasilkan partikel halus (PM2,5) yang dapat menyebar di kawasan sekitar. Kondisi ini tentu juga turut membahayakan kesehatan manusia.


Dalam upaya mengoptimalkan potensi dan menjaga keselarasan berbagai aktivitas manusia dengan ekosistem gambut terdapat beberapa faktor dan tantangan yang berpengaruh terhadap upaya perlindungan gambut. Adapun tantangan dalam mendukung upaya perlindungan, pengelolaan, serta pemulihan ekosistem gambut diantaranya meliputi:


  1. Cuaca Ekstrem

Cuaca ekstrem adalah kondisi ketika terdapat fenomena alam berupa kondisi cuaca yang tidak normal dengan dampak terhadap lingkungan yang signifikan. Dampak dari cuaca ekstrem tersebut dapat mempengaruhi aktivitas manusia hingga ekosistem pertanian.


Cuaca ekstrem membawa dampak terhadap fenomena alam yang sangat beragam. Mulai dari gelombang panas, hujan dengan intensitas lebat, tornado, siklon tropis, hingga banjir.


  1. El Nino

El Nino adalah fenomena pemanasan suhu permukaan laut di wilayah Samudera Pasifik bagian tengah dan timur yang melebihi suhu normal. Dengan kondisi tersebut kemudian berdampak terhadap perubahan pola angin dan curah hujan di berbagai belahan dunia.


Kemunculan fenomena El Nino tersebut kemudian berdampak terhadap:

  • Curah hujan yang dapat turun signifikan di sebagian besar wilayah Indonesia

  • Musim kemarau menjadi lebih panjang dan kering

  • Meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan


  1. Aktivitas Industri

Keberadaan ekosistem gambut juga dihadapkan dengan semakin bervariasinya aktivitas manusia. Selain aktivitas domestik, kini aktivitas industri juga telah merambah pemanfaatan lahan gambut melalui hasil konsesi. Sektor perkebunan menjadi satu contoh terhadap pemanfaatan lahan gambut di skala industri.


Alat Ukur TMAT Sangat Diperlukan Untuk Mendukung Optimalisasi Pengelolaan Ekosistem Gambut 

Peran penting serta manfaat yang dimiliki oleh gambut bagi kelestarian lingkungan semestinya turut diimbangi dengan pemahaman yang baik sebagai dasar untuk meningkatkan pengelolaan ekosistem gambut. Inovasi dalam meningkatkan akuntabilitas terkait data dalam wilayah gambut menggunakan Alat Ukur TMAT (tinggi muka air tanah) tentu bukan tanpa alasan.


Dengan adanya implementasi menggunakan alat tersebut informasi terkait tinggi muka air tanah dapat diketahui dengan mudah melalui kemampuan pemantauan secara otomatis dan real-time selama 24 jam. Langkah tersebut tentu bertujuan untuk menjaga keberadaan maupun berbagai potensi dan manfaat yang dimiliki gambut seperti:


  1. Menyimpan Cadangan Air Tanah

Gambut dapat dianalogikan sebagai spon raksasa yang terbentuk dengan proses alami. Jika dibandingkan dengan tanah mineral, tanah gambut memiliki kemampuan lebih baik untuk menyerap dan menyimpan air. Hal ini dikarenakan tanah gambut memiliki pori-pori yang lebih besar sehingga mampu menyerap dan menyimpan air dengan mudah. Bahkan tanah gambut mampu menyerap dan menyalurkan air sebesar 100% - 1300% dari bobot keringnya.


  1. Menyimpan Karbon

Luas cakupan gambut yang diperkirakan hanya sekitar 3% dari luas daratan di dunia memiliki peran signifikan dalam kemampuan untuk menyerap dan menyimpan karbon. Gambut dinilai mampu menyimpan hingga 550 gigaton karbon secara global yang angka tersebut dianggap dua kali lipat lebih besar dari karbon yang tersimpan di seluruh hutan dunia. 


  1. Rumah Bagi Flora Fauna Endemik

Keberadaan ekosistem gambut sangat berarti untuk menjadi rumah bagi flora dan fauna endemik. Wilayah gambut di Indonesia yang memiliki keanekaragaman hayati tertinggi berada di Taman Nasional Sebangau yang terletak di Provinsi Kalimantan Tengah. Di taman nasional ini tercatat tidak kurang dari 808 spesies flora, 35 spesies mamalia, 182 spesies burung, dan 54 spesies ular hidup di di kawasan tersebut.


Mertani telah dipercaya untuk memenuhi kebutuhan teknologi dalam berbagai industri dan institusi. Pengembangan produk berbasis Internet of Things (IoT) yang dimiliki oleh Mertani bermanfaat dalam melakukan pengamatan dan pemantauan cuaca, pemantauan curah hujan, pemantauan kualitas udara, pemantauan tinggi muka air, pemantauan kualitas air limbah, dan masih banyak lagi.


Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of Things (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website: mertani.co.id 

Linkedin : PT Mertani


Sumber:


Comments


Alat Pantau Tinggi Muka Air Tanah Gambut - Mertani
WhatsApp

Contact Us

Get special offers tailored to your needs!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

Thanks for submitting!

bottom of page