top of page

Banjir Perkotaan: Dampak Urbanisasi yang Tak Terkendali terhadap Risiko Bencana

Urbanisasi yang berlangsung tanpa perencanaan matang telah mendorong alih fungsi lahan secara masif, dari ruang terbuka hijau menjadi kawasan permukiman dan komersial. Permukaan tanah yang sebelumnya mampu menyerap air kini tertutup beton dan aspal, sehingga daya resap berkurang drastis. Akibatnya, ketika curah hujan tinggi terjadi, air tidak tertampung dengan baik dan langsung mengalir ke permukiman warga, memicu banjir perkotaan yang semakin sulit dikendalikan setiap tahunnya.


Kondisi ini diperparah oleh sistem drainase yang tidak sebanding dengan pertumbuhan penduduk dan pembangunan. Di banyak kota besar, kapasitas saluran air belum diperbarui sesuai kebutuhan, sehingga mudah meluap saat hujan deras. Minimnya pengelolaan tata ruang dan lemahnya pengawasan pembangunan juga menjadi faktor utama meningkatnya risiko banjir. Tanpa perencanaan berkelanjutan, urbanisasi justru memperbesar potensi kerugian sosial, ekonomi, dan lingkungan.


Pertumbuhan Kota dan Perubahan Tata Guna Lahan

Pertumbuhan kota yang berlangsung cepat telah mengubah wajah lingkungan secara signifikan. Lahan hijau yang sebelumnya berfungsi sebagai daerah resapan air beralih menjadi kawasan permukiman, pusat bisnis, dan infrastruktur transportasi. Perubahan ini membuat kemampuan alami kota dalam menyerap dan menahan air hujan semakin berkurang. Akibatnya, setiap kali curah hujan meningkat, volume limpasan air permukaan bertambah dan membebani saluran drainase yang kapasitasnya terbatas.


Urbanisasi juga berdampak pada perubahan siklus hidrologi secara menyeluruh. Tanah yang dahulu permeabel kini tertutup beton dan aspal sehingga tidak lagi mampu menyerap air secara optimal. Air hujan akhirnya mengalir cepat menuju sungai atau area rendah, memicu genangan bahkan banjir. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan frekuensi dan intensitas banjir perkotaan, terutama saat hujan deras berlangsung dalam durasi lama.


Berkurangnya Daerah Resapan Air

Hilangnya daerah resapan air menjadi dampak nyata dari ekspansi kawasan perkotaan yang terus meluas tanpa kendali. Permukaan kedap air seperti beton dan aspal kini mendominasi sebagian besar wilayah kota, bahkan mencapai 70 hingga 80 persen di beberapa area. Lahan basah, taman kota, dan ruang terbuka hijau yang dahulu berfungsi menyerap air perlahan berkurang akibat pembangunan permukiman serta fasilitas komersial.


Kondisi tersebut mengurangi kemampuan tanah dalam melakukan infiltrasi air hujan secara alami. Air yang seharusnya meresap ke dalam tanah berubah menjadi limpasan permukaan yang mengalir cepat menuju saluran drainase dan sungai. Di beberapa kota, alih fungsi lahan pertanian mempercepat erosi serta penurunan muka air tanah. Akibatnya, kota kehilangan efek spons alami dan banjir menjadi permasalahan kronis meski curah hujan tergolong sedang.


Peningkatan Limpasan Permukaan saat Hujan Lebat

Saat hujan lebat mengguyur kawasan perkotaan, volume limpasan permukaan meningkat tajam karena dominasi beton dan aspal yang menghambat proses resapan alami. Kecepatan aliran air dapat melonjak hingga lima sampai sepuluh kali lipat dibandingkan kondisi lahan terbuka. Sistem drainase yang sudah tua, sempit, dan kerap tersumbat sampah akhirnya tidak mampu menampung debit air yang datang secara tiba-tiba dan masif tersebut.


Kondisi ini semakin diperparah oleh perubahan iklim yang memicu peningkatan intensitas hujan ekstrem dalam waktu singkat. Peristiwa seperti banjir besar di Jakarta tahun 2020 menunjukkan bagaimana ribuan rumah dapat terendam dalam hitungan jam. Sedimentasi di sungai perkotaan turut mengurangi kapasitas tampung air. Kombinasi faktor tersebut menciptakan siklus banjir berulang yang semakin sulit diputus tanpa pembenahan menyeluruh.


Tantangan Pengendalian Banjir di Wilayah Padat Penduduk

Wilayah padat penduduk memiliki kompleksitas tinggi dalam pengendalian banjir perkotaan karena keterbatasan ruang dan infrastruktur yang belum memadai. Sistem drainase kerap tidak dirancang untuk menampung lonjakan debit air saat hujan deras. Di kawasan permukiman padat, terutama area kumuh, saluran air sering tersumbat sampah dan limbah domestik. Pembangunan yang tidak sesuai zonasi rawan banjir semakin memperparah risiko genangan dan memperbesar potensi kerugian sosial.


Di sisi lain, pemerintah menghadapi tantangan dalam menyelaraskan perencanaan tata ruang dengan pembangunan drainase modern. Kota dengan laju pertumbuhan penduduk 4–5 persen per tahun membutuhkan solusi cepat namun tetap berkelanjutan. Pembangunan waduk kota, kolam retensi, dan taman resapan sering terhambat kepentingan ekonomi serta keterbatasan lahan. Akibatnya, masyarakat berpenghasilan rendah menjadi kelompok paling rentan terhadap banjir dan evakuasi massal.


Peran Data dan Sensor dalam Pengelolaan Banjir Perkotaan

Data dan sensor memiliki peran krusial dalam pengelolaan banjir perkotaan karena menyediakan informasi real-time mengenai curah hujan, tinggi muka air, dan kapasitas drainase. Dengan dukungan teknologi pemantauan, pemerintah dapat mendeteksi potensi banjir lebih awal dan mengambil langkah mitigasi sebelum kondisi memburuk. Informasi berbasis data juga membantu dalam perencanaan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim dan pertumbuhan kawasan urban yang pesat.


Pemanfaatan alat hidrologi dan sistem peringatan dini memungkinkan respons yang lebih cepat serta terkoordinasi saat terjadi hujan ekstrem. Data yang terkumpul dapat dianalisis untuk memetakan wilayah rawan genangan dan mengevaluasi kinerja saluran air. Selain itu, integrasi data dengan sistem informasi geografis mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti, sehingga strategi pengendalian banjir menjadi lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan.


Urbanisasi yang tidak terkendali telah memperbesar risiko banjir melalui berkurangnya daerah resapan dan meningkatnya beban sistem drainase kota. Permukaan kedap air membuat limpasan hujan sulit dikendalikan, sementara infrastruktur yang ada kerap tidak mampu menampung debit ekstrem. Namun, pendekatan berbasis alam seperti Nature-based Solutions serta pemanfaatan teknologi sensor dan sistem peringatan dini menghadirkan harapan dalam mengurangi risiko tersebut secara berkelanjutan.


Integrasi perencanaan kota berkelanjutan menjadi kunci membangun ketahanan terhadap ancaman banjir di masa depan. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sangat diperlukan untuk menerapkan solusi hijau, memperkuat sistem peringatan dini, serta memperbaiki tata ruang. Tanpa sinergi yang kuat dan konsisten, banjir berisiko menjadi fenomena rutin. Upaya kolektif sejak sekarang menentukan apakah kota mampu bertransformasi menjadi lebih tangguh. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of Things (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website: mertani.co.id 

Linkedin : PT Mertani


Sumber:

Comments


Pop up bawah Maret.png
WhatsApp

Contact Us

Get special offers tailored to your needs!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

Thanks for submitting!

bottom of page