top of page

Sistem Peringatan Dini Kebakaran Hutan Untuk Mitigasi Risiko Degradasi Lingkungan

6 jam yang lalu
4 menit membaca
Sistem peringatan dini kebakaran hutan menggunakan sensor IoT mendukung pemantauan tinggi muka air tanah, curah hujan,  berkelanjutan secara otomatis dan real-time
Sumber: Pexels

Pengertian Hutan

Hutan adalah bentang alam yang digambarkan dengan tanah luas dengan ditumbuhi pohon-pohon yang biasanya tidak dipelihara oleh orang atau individu. Keberadaan hutan sangat penting untuk kelangsungan proses hidrologi dalam menyimpan air. Hutan di kawasan hulu berperan dalam bagaimana proses infiltrasi air hujan dapat berjalan optimal. Hal tersebut mendukung mitigasi banjir secara alami dengan mencegah luapan air berlebih di sungai.


Dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan pengertian hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Sedangkan yang dimaksud dengan kehutanan adalah sistem pengurusan yang bersangkut paut dengan hutan, kawasan hutan, dan hasil hutan yang diselenggarakan secara terpadu.


Dalam implementasinya, segala bentuk pemanfaatan hutan memerlukan kesadaran serta memperhatikan aspek kebermanfaatannya baik secara sosial maupun ekonomi. Sebagai salah satu sumber daya alam yang dapat diperbarui pemanfaatan hutan tetap tidak boleh berlebihan. Pemanfaatan hutan harus diimbangi dengan upaya dalam menjaga kelestariannya agar tidak rusak dan dapat dinikmati oleh generasi yang akan datang.


Tantangan Dalam Pengelolaan dan Perlindungan Hutan

Pengelolaan hutan agar tetap pada kondisi alamnya yang lestari dihadapkan dengan beberapa tantangan. Adapun tantangan tersebut dapat dipicu oleh dua faktor yaitu faktor alam dan faktor manusia. Namun, seringkali faktor yang kedua menjadi yang paling kerap diduga sebagai faktor utama terhadap kerusakan hutan melalui aktivitas deforestasi.


Deforestasi adalah proses penggundulan atau pembukaan hutan yang berdampak terhadap hilangnya tutupan hutan dan fungsi alaminnya dalam menjaga stabilitas ekosistem. Selain dapat terjadi secara alami, deforestasi juga kerap dipengaruhi oleh faktor maupun ulah manusia. Motif atau penyebab deforestasi sangat beragam yang dapat meliputi:


  • Pembukaan Lahan untuk Pertanian dan Perkebunan

Permintaan yang tinggi terhadap kebutuhan bisnis pada sektor pertanian dan perkebunan adalah faktor yang mendorong konversi hutan maupun alih fungsi lahan. Salah satu bentuk produk hasil perkebunan yang secara global masih memiliki permintaan tinggi adalah kelapa sawit.


  • Penebangan Hutan untuk Kayu dan Produk Turunan Hutan Lainnya

Selain industri pertanian dan perkebunan, pemanfaatan yang berpotensi untuk membawa dampak destruktif terhadap keberadaan hutan adalah penebangan liar. Faktor yang berpotensi untuk menjadi pemicu terhadap meningkatnya eksploitasi kayu adalah kebutuhan untuk industri furnitur hingga konstruksi. Hal tersebut bahkan dapat menyebabkan terjadinya deforestasi secara signifikan.


  • Perluasan Infrastruktur dan Pemukiman

Urbanisasi yang berlangsung pesat dan tidak terkontrol akan membawa dampak pula terhadap keberadaan hutan. Kondisi tersebut dapat mendorong masifnya pembangunan infrastruktur seperti jalan, bandara, hingga kawasan pemukiman baru yang merambah ke area hutan.


  • Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan menjadi tantangan dalam pengelolaan dan perlindungan hutan. Kondisi tersebut dapat diakibatkan oleh faktor alam dan faktor manusia yang membutuhkan upaya mitigasi risiko dan langkah pencegahan yang baik. Kejadian bencana kebakaran hutan berpotensi untuk mengalami eskalasi ketika dihadapkan dengan cuaca ekstrem. Fenomena El Nino yang bersamaan dengan musim kemarau adalah faktor risiko yang dapat menjadi pemicu terjadinya bencana kebakaran hutan.


Dengan berbagai tantangan yang dihadapi untuk menjaga kelestarian hutan sebagai satu jenis sumber daya alam yang sangat bernilai, sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan diperlukan. Terlebih lagi, untuk mendukung pemantauan hutan dan sebagai sistem peringatan dini kebakaran hutan dan lahan perkembangan teknologi sensor berbasis IoT saat ini dibutuhkan untuk penguatan mitigasi risiko.


Implementasi Sistem Peringatan Dini Kebakaran Hutan dan Lahan

Sistem peringatan dini kebakaran hutan adalah instrumen penting dalam mendukung pengelolaan serta perlindungan hutan dari potensi kerusakan lingkungan akibat kebakaran. Keberadaan hutan dalam kondisi terbaiknya, memegang kendali penting untuk menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati, menyimpan karbon, hingga menjaga stabilitas iklim dunia.


Pemantauan hutan yang berkelanjutan dibutuhkan untuk dapat mendukung setiap upaya pengelolaan hutan. Kerapatan dan berbagai jenis vegetasi yang terdapat dalam kawasan hutan sangat tak ternilai mengingat manfaatnya yang begitu besar. Namun, berbagai faktor risiko turut membayangi berbagai upaya perlindungan maupun konservasi hutan. Keberadaan hutan tak lepas dari faktor risiko yang setidaknya dapat meliputi:


  • Faktor Manusia

Pertumbuhan penduduk seringkali berbanding lurus dengan meningkatnya berbagai kebutuhan, baik sandang maupun pangan. Pembukaan hutan untuk kebutuhan perkebunan monokultur, penebangan liar, hingga penambangan adalah beberapa potensi yang dapat menyebabkan eskalasi bencana kebakaran hutan.


  • Faktor Alam

Cuaca ekstrem yang turut dipengaruhi oleh adanya perubahan iklim berpotensi untuk menyebabkan berbagai fenomena lingkungan. Meningkatnya suhu udara secara ekstrem dan minimnya curah hujan menjadi faktor risiko lain yang dapat menciptakan eskalasi kejadian bencana kebakaran hutan.


Internet of Things (IoT) dan Implementasi Sistem Peringatan Dini Kebakaran Hutan

Teknologi internet of things (IoT) menjadi satu bentuk inovasi yang saat ini turut menandai transformasi digital dalam melakukan pemantauan lingkungan secara kontinu. Penggunaan sensor-sensor IoT untuk melakukan pengukuran berbagai parameter yang meliputi tinggi muka air tanah, curah hujan, kelembapan tanah, dan suhu tanah telah mendorong adanya peningkatan dalam dukungan informasi akurat untuk setiap tindakan maupun kebijakan yang tepat berbasis data.


Implementasi teknologi IoT telah mendorong arah program maupun kebijakan kebencanaan untuk lebih fokus pada upaya pencegahan melalui penguatan sistem peringatan dini kebakaranĀ  hutan. Penggunaan sensor IoT, data logger, serta konektivitas internet memungkinkan untuk pemantauan secara otomatis dan real-time sehingga berbagai faktor risiko yang berpotensi untuk menyebabkan kebakaran hutan dapat dimitigasi dengan baik.


Sistem peringatan dini kebakaran hutan berbasis teknologi IoTĀ yang dapat melakukan pemantauan selama 24 jam non stop mendukung adanya intervensi lebih cepat ketika terdapat peningkatan suhu tanah dan turunnya tinggi muka air tanah. Sehingga potensi terhadap kemunculan dan sebaran titik api yang masif dapat diantisipasi sejak dini untuk meminimalisir berbagai dampak yang ditimbulkan akibat adanya kebakaran hutan.


Mertani telah dipercaya untuk memenuhi kebutuhan teknologi dalam berbagai industri dan institusi. Pengembangan produk berbasis Internet of Things (IoT) yang dimiliki oleh Mertani turut mendukung upaya mitigasi bencana melalui sistem peringatan dini kebakaran.


Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of ThingsĀ (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website:Ā mertani.co.idĀ 

Linkedin :Ā PT Mertani


Sumber:


Ā 
Ā 
Ā 

Komentar


SPARING - Sistem Pemantauan Kualitas Air Limbah Secara Terus Menerus dan Dalam jaringan
WhatsApp

Hubungi Kami

Dapatkan Penawaran Spesial Sesuai Kebutuhanmu!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

bottom of page