top of page

Ketahanan Iklim Daerah dalam Menghadapi Ancaman Banjir Besar akibat Perubahan Iklim

Ketahanan iklim daerah menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman banjir besar yang semakin nyata di era perubahan iklim. Di Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan curah hujan tinggi, bencana hidrometeorologi seperti banjir sering kali mengancam kehidupan masyarakat, infrastruktur, dan ekonomi. Ketahanan iklim tidak hanya tentang bertahan dari bencana, melainkan membangun sistem yang adaptif, resilien, dan mampu memulihkan diri dengan cepat. Perubahan iklim memperburuk pola cuaca ekstrem, membuat banjir besar lebih sering dan intens.


Dampak Perubahan Iklim terhadap Siklus Hujan

Perubahan iklim secara signifikan mengganggu siklus hujan alami, menyebabkan pola presipitasi yang tidak teratur dan ekstrem. Peningkatan suhu global memicu penguapan lebih tinggi, yang menghasilkan awan hujan lebih banyak dan curah hujan lebih deras dalam waktu singkat. Di Indonesia, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa frekuensi hujan lebat meningkat 20-30% dalam dekade terakhir, terutama di wilayah Jawa dan Sumatera.


Efek ini memperburuk bencana hidrometeorologi karena siklus hujan yang panjang dan intens melebihi kapasitas drainase alami dan buatan. Misalnya, El NiƱo dan La NiƱa yang semakin ekstrem mempercepat siklus basah-kering, di mana musim hujan menjadi lebih pendek tapi lebih ganas. Akibatnya, daerah rawan banjir mengalami genangan air lebih lama, merusak tanah pertanian dan habitat ekosistem. Ketahanan iklim daerah harus mempertimbangkan adaptasi terhadap perubahan ini melalui pemantauan jangka panjang.


Mengapa Banjir Besar Semakin Sering Terjadi?

Banjir besar semakin sering karena kombinasi faktor alam dan antropogenik yang diperburuk perubahan iklim. Cuaca ekstrem seperti hujan deras berkepanjangan, dikombinasikan dengan deforestasi dan urbanisasi liar, mengurangi daya serap air tanah. Di Jakarta, misalnya, banjir rob dan sungai meluap menjadi rutinitas tahunan, dengan kerugian ekonomi mencapai triliunan rupiah.


Perubahan iklim meningkatkan intensitas siklon tropis dan monsun, menyebabkan debit air sungai melonjak hingga 50% di atas normal. Selain itu, naiknya permukaan laut akibat pencairan es kutub memperparah banjir pesisir. Data BMKG mencatat peningkatan kejadian banjir 15% per tahun sejak 2010. Tanpa ketahanan iklim yang kuat, daerah-daerah ini rentan terhadap kerusakan permanen, termasuk longsor dan kontaminasi air bersih.


Peran Perencanaan Tata Ruang dalam Mengurangi Kerentanan

Mitigasi berbasis tata ruang memainkan peran sentral dalam membangun ketahanan iklim daerah terhadap banjir. Perencanaan ini melibatkan zonasi lahan yang bijak, seperti membatasi pembangunan di bantaran sungai dan daerah resapan air. Di Indonesia, Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) provinsi harus mengintegrasikan peta risiko banjir untuk menghindari pemukiman di zona rawan.


Contohnya, pembangunan ruang terbuka hijau (RTH) seluas 30% dari luas kota dapat meningkatkan infiltrasi air hingga 40%. Selain itu, relokasi permukiman dan restorasi gambut mencegah amplifikasi banjir. Pendekatan ini tidak hanya mengurangi kerentanan tapi juga mendukung ekosistem berkelanjutan. Pemerintah daerah perlu menerapkan regulasi ketat untuk memastikan mitigasi berbasis tata ruang menjadi prioritas dalam pembangunan.


Adaptasi terhadap cuaca ekstrem membutuhkan strategi multifaset yang mengintegrasikan teknologi dengan kebijakan lokal secara berkelanjutan.
Sumber: Kompas.com

Strategi Adaptasi untuk Menghadapi Cuaca Ekstrem

Adaptasi terhadap cuaca ekstrem membutuhkan strategi multifaset yang mengintegrasikan teknologi dengan kebijakan lokal secara berkelanjutan. Salah satu instrumen krusial adalah Early Warning System (EWS) banjirĀ yang mampu memberikan peringatan dini secara real-timeĀ kepada pemerintah dan masyarakat. Informasi cepat dan akurat ini memungkinkan respons lebih sigap, mempercepat pengambilan keputusan, serta meminimalkan dampak banjir di wilayah rawan secara signifikan dan terkoordinasi.


Selain teknologi, strategi adaptasi juga mencakup peningkatan infrastruktur fisik seperti embung, kanal drainase, dan pengelolaan sungai terpadu, serta pendidikan masyarakat terkait evakuasi mandiri. Pendekatan komprehensif ini memperkuat ketahanan iklim daerah dengan menekan risiko dan kerugian. Berdasarkan laporan BNPB, kombinasi teknologi, infrastruktur, dan edukasi mampu mengurangi korban jiwa hingga 70 persen, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat secara kolektif.


Pentingnya Kolaborasi Berbasis Sains dan Data

Kolaborasi berbasis sains dan data menjadi pondasi utama ketahanan iklim daerah dalam menghadapi risiko hidrometeorologi. Pemerintah daerah perlu berkoordinasi erat dengan BMKG dan akademisi untuk berbagi data hidrometeorologi secara real-time.Ā Integrasi big data dan kecerdasan buatan memungkinkan pemodelan prediksi yang lebih akurat, termasuk simulasi debit sungai berbasis machine learning, guna mendukung perencanaan adaptasi, mitigasi, serta pengambilan keputusan kebijakan berbasis bukti lintas sektor dan berkelanjutan.


Pelibatan komunitas lokal menjadi kunci agar data sains dapat diterjemahkan menjadi aksi nyata di lapangan. Melalui pelatihan dan literasi risiko, masyarakat mampu memahami informasi peringatan dini dan berpartisipasi aktif. Kolaborasi multipihak ini tidak hanya menangani bencana hidrometeorologi, tetapi juga membangun kepercayaan publik terhadap sistem adaptasi iklim yang transparan dan inklusif, berbasis kolaborasi jangka panjang antara pemerintah, ilmuwan, dan warga di tingkat daerah secara konsisten.


 EWS banjir, dan kolaborasi data-driven. Dengan mengelola siklus hujan ekstrem dan mengurangi kerentanan struktural, Indonesia dapat meminimalkan dampak cuaca ekstrem
Sumber: Pribadi

Ketahanan iklim daerah dalam menghadapi ancaman banjir besar akibat perubahan iklim bergantung pada integrasi mitigasi berbasis tata ruang, EWS banjir, dan kolaborasi data-driven. Dengan mengelola siklus hujan ekstrem dan mengurangi kerentanan struktural, Indonesia atadapat meminimalkan dampak cuaca ekstrem. Implementasi segera di tingkat lokal akan menyelamatkan nyawa dan aset, menuju masa depan yang lebih resilien. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of ThingsĀ (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website:Ā mertani.co.idĀ 

Linkedin :Ā PT Mertani


Sumber:


Komentar


Pop up bawah.png
WhatsApp

Hubungi Kami

Dapatkan Penawaran Spesial Sesuai Kebutuhanmu!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

Thanks for submitting!

bottom of page