top of page

Hujan Berlebih dan Dampaknya terhadap Ketahanan Infrastruktur serta Keselamatan Kerja

Hujan Berlebih dan Dampaknya terhadap Ketahanan Infrastruktur serta Keselamatan Kerja
Sumber: ai-care.id

Indonesia sebagai negara tropis sangat rentan terhadap hujan ekstrem, ditandai dengan meningkatnya kejadian curah hujan di atas 150 mm per hari secara relatif merata sepanjang periode 1991–2024. Kondisi ini memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor yang berdampak luas. Selain merugikan lingkungan, hujan berlebih juga mempercepat kerusakan infrastruktur krusial seperti jalan, jembatan, dan sistem drainase di berbagai daerah.


Dampak hujan ekstrem tidak hanya dirasakan oleh infrastruktur, tetapi juga mengancam keselamatan kerja, khususnya bagi pekerja konstruksi dan lapangan. Oleh karena itu, ketahanan infrastruktur dan penerapan standar keselamatan kerja menjadi prioritas utama, terutama di wilayah rawan. Sinergi antara pemerintah daerah, BMKG, dan Kementerian PUPR diperlukan untuk mendukung adaptasi berbasis data, perencanaan teknis yang tepat, serta mitigasi risiko berkelanjutan.


Risiko Kerusakan Infrastruktur Akibat Hujan Ekstrem

Hujan berlebih memicu erosi tanah, longsor, serta overtopping pada jalan dan jembatan yang mempercepat terjadinya kerusakan struktural. Tekanan air yang tinggi melemahkan fondasi, memperpendek usia layanan infrastruktur, dan meningkatkan risiko kegagalan konstruksi. Kondisi ini berdampak langsung pada keselamatan pengguna jalan serta kelancaran aktivitas ekonomi, terutama di wilayah dengan topografi curam dan sistem drainase yang belum memadai.


Data BMKG menunjukkan peningkatan kejadian curah hujan ekstrem sehingga menuntut redesign infrastruktur Pekerjaan Umum yang lebih adaptif. Penyesuaian mencakup penerapan standar SNI baru untuk kondisi daya serap tanah rendah serta pemeliharaan drainase secara intensif. Di kawasan perkotaan, banjir merusak fondasi bangunan dan sistem irigasi, menyebabkan kerugian ekonomi mencapai triliunan rupiah per tahun akibat ketidaksiapan menghadapi hujan berlebih.


Dampak Pada Keselamatan Pekerja Lapangan

Pekerja lapangan menghadapi berbagai risiko keselamatan akibat hujan berlebih, seperti terpeleset pada permukaan licin, banjir lokal, serta paparan cuaca ekstrem. Setelah hujan deras, perubahan suhu dapat memicu hipotermia, sementara aktivitas fisik tinggi di lingkungan lembap berpotensi menyebabkan heatstroke. Kondisi ini meningkatkan kelelahan, menurunkan konsentrasi, dan memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja di lapangan.


Lingkungan kerja yang lembap juga meningkatkan risiko kecelakaan listrik serta jatuh dari ketinggian, khususnya pada proyek konstruksi. Visibilitas yang menurun akibat hujan deras memperburuk pengoperasian alat berat dan koordinasi kerja. Oleh karena itu, perusahaan wajib membekali pekerja dengan pelatihan keselamatan untuk mengenali potensi bahaya, menerapkan prosedur kerja aman, serta menggunakan alat pelindung diri guna mencegah cedera serius.


Contoh Insiden Pekerjaan Akibat Curah Hujan Berlebih

Curah hujan berlebih sering memicu insiden pekerjaan, khususnya di sektor konstruksi dan infrastruktur. Salah satu contohnya adalah kecelakaan pekerja jalan yang terperosok akibat genangan air menutupi lubang galian. Kondisi permukaan licin dan drainase yang tidak berfungsi optimal menyebabkan pekerja kehilangan keseimbangan, mengakibatkan cedera serius serta menghentikan sementara aktivitas proyek.


Insiden lain terjadi pada proyek jembatan ketika hujan deras menurunkan visibilitas dan meningkatkan debit air sungai secara tiba-tiba. Alat berat yang beroperasi di area basah menjadi tidak stabil, sementara pekerja berisiko terseret arus atau tersengat listrik dari peralatan yang lembap. Kejadian ini menunjukkan pentingnya evaluasi cuaca dan penghentian kerja sementara demi menjaga keselamatan.


Peran Monitoring Curah Hujan dalam Mitigasi Risiko

Monitoring curah hujan memegang peran penting dalam mitigasi risiko bencana dan kecelakaan kerja, terutama di wilayah rawan hujan berlebih. Pemantauan yang akurat memungkinkan identifikasi dini potensi banjir, longsor, dan gangguan operasional infrastruktur. Melalui data historis dan real-time, pihak terkait dapat mengambil keputusan cepat seperti penyesuaian jadwal kerja, pengamanan lokasi proyek, serta peningkatan kesiapsiagaan keselamatan.


Penggunaan Automatic Rainfall Recorder (ARR) menjadi solusi efektif dalam mendukung sistem monitoring curah hujan yang andal. ARR mampu merekam intensitas dan durasi hujan secara kontinu sehingga memberikan data presisi untuk analisis risiko. Informasi ini penting bagi pemerintah dan perusahaan dalam merancang sistem peringatan dini, perencanaan infrastruktur adaptif, serta penerapan prosedur keselamatan kerja berbasis kondisi cuaca aktual.


Protokol Keselamatan yang Perlu Diterapkan

Protokol keselamatan kerja mencakup penghentian sementara seluruh aktivitas lapangan saat terjadi hujan deras guna mencegah kecelakaan. Pekerja wajib menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti sepatu anti-slip, jas hujan, serta pelindung instalasi listrik untuk menghindari risiko terpeleset dan sengatan listrik. Penerapan prosedur ini bertujuan menjaga keselamatan tenaga kerja serta meminimalkan potensi kerusakan peralatan akibat kondisi cuaca ekstrem.


Selain itu, pelatihan kesadaran lingkungan, pertolongan pertama, serta pemantauan cuaca melalui BMKG harus diterapkan secara konsisten. Prosedur evakuasi banjir dan inspeksi peralatan pasca-hujan menjadi bagian penting dari manajemen risiko. Integrasi sistem ARR memungkinkan notifikasi otomatis yang mendukung pengambilan keputusan cepat dan tepat, sehingga respons terhadap kondisi darurat dapat dilakukan secara efektif dan terkoordinasi.


Penggunaan Automatic Rainfall Recorder (ARR) menjadi solusi efektif dalam mendukung sistem monitoring curah hujan yang andal.
Sumber: Pribadi

Hujan berlebih menjadi tantangan serius bagi ketahanan infrastruktur dan keselamatan kerja di berbagai sektor. Intensitas curah hujan yang tinggi berpotensi menimbulkan banjir, kerusakan fasilitas, serta peningkatan risiko kecelakaan kerja. Namun, dampak tersebut dapat diminimalkan melalui penerapan sistem ARR yang terintegrasi dengan protokol Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Pendekatan mitigasi ini memungkinkan deteksi dini, respons cepat, serta pengambilan keputusan berbasis data yang lebih akurat.


Kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah, pelaku industri, dan penyedia teknologi menjadi kunci dalam menghadapi tantangan adaptasi iklim di Indonesia. Pemanfaatan data real-time sangat esensial untuk mendukung perencanaan dan tindakan preventif. Implementasi segera sistem dan protokol ini diharapkan mampu melindungi aset strategis serta menyelamatkan nyawa, khususnya dalam menghadapi risiko musim hujan tahun 2026 yang diprediksi semakin ekstrem. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of Things (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website: mertani.co.id 

Linkedin : PT Mertani


Sumber:

Komentar


Pop up bawah.png
WhatsApp

Hubungi Kami

Dapatkan Penawaran Spesial Sesuai Kebutuhanmu!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

Thanks for submitting!

bottom of page