top of page

Ancaman Bencana Hidrometeorologi 2025: Prediksi Dampak dan Solusi Adaptif Daerah

Indonesia, sebagai negara kepulauan tropis, rentan terhadap bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, kekeringan, dan cuaca ekstrem. Pada 2025, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 2.535 kejadian bencana alam hingga Oktober, dengan dominasi hidrometeorologi mencapai ribuan kasus banjir dan longsor. Prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan curah hujan tahunan melebihi 2.500 mm di 67% wilayah, memicu risiko tinggi hingga awal 2026.


Fenomena La Nina lemah memperpanjang musim hujan, dengan puncak di Sumatra dan Kalimantan pada November-Desember 2025, serta Jawa dan Sulawesi pada Januari-Februari 2026. Dampaknya tidak hanya korban jiwa seperti 400 jiwa di Sumatra akhir 2025 tapi juga kerugian ekonomi miliaran rupiah akibat lumpuhnya infrastruktur dan pertanian.


Tren Peningkatan Kejadian Bencana Hidrometeorologi di Indonesia

Sepanjang tahun 2025, bencana hidrometeorologi masih didominasi oleh kejadian banjir dengan total 1.005 peristiwa hingga September. Jenis bencana lain yang turut tercatat meliputi kebakaran hutan dan lahan sebanyak 457 kejadian, cuaca ekstrem 373 kejadian, tanah longsor 161 kejadian, serta kekeringan 29 kejadian. Puncak dampak terjadi pada akhir November, khususnya di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.


Berdasarkan proyeksi BMKG, sekitar 67 persen wilayah Indonesia berpotensi mengalami curah hujan lebih dari 2.500 milimeter per tahun. Bahkan, beberapa wilayah seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua diperkirakan dapat mencapai curah hujan hingga 5.000 milimeter. Kondisi ini meningkatkan risiko terjadinya banjir bandang, longsor, serta angin kencang di berbagai daerah.


Tren peningkatan bencana hidrometeorologi diperkirakan masih berlanjut hingga 2026, dengan peringatan hujan lebat di wilayah Jawa, Bali, dan kawasan timur Indonesia hingga akhir Januari. Daerah rawan utama meliputi Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta sebagian besar wilayah Sumatra. Sejumlah daerah bahkan telah menetapkan status siaga darurat hingga April 2026.


Faktor Pemicu: Perubahan Iklim, Tata Ruang, dan Kerusakan Lingkungan

Perubahan iklim global semakin memperburuk intensitas hujan ekstrem dan membuat pola musim menjadi tidak menentu. Fenomena La NiƱa yang berulang, dipadukan dengan suhu permukaan laut yang hangat di perairan Indonesia, meningkatkan pembentukan awan hujan intens. Kondisi ini diperparah dengan kemunculan siklon tropis langka, seperti Siklon Senyar di Selat Malaka pada akhir 2025, yang mempercepat terjadinya banjir bandang di wilayah sekitarnya.


Selain faktor iklim, persoalan tata ruang dan aktivitas manusia turut memperbesar risiko bencana hidrometeorologi. Urbanisasi yang tidak diimbangi sistem drainase memadai serta alih fungsi hutan menjadi permukiman dan perkebunan mengurangi daya resap tanah. Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) di Sumatra akibat deforestasi jutaan hektare memperparah longsor dan banjir, terutama di kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi dan kondisi sosial ekonomi rentan.


Kesiapan Pemerintah dan Teknologi yang Diperlukan

Pemerintah pusat melalui BNPB dan BMKG telah menetapkan status darurat di sejumlah provinsi terdampak bencana hidrometeorologi, disertai upaya pemantauan retakan tanah serta penyaluran bantuan logistik kepada masyarakat. Meski demikian, tingkat kesiapan daerah masih menghadapi berbagai keterbatasan. Hal ini terlihat dari keterlambatan proses evakuasi di beberapa wilayah Sumatra, yang menyebabkan risiko korban meningkat akibat respons awal yang belum optimal.


Sebagai langkah prioritas, pemanfaatan teknologi Early Warning System (EWS) BMKG menjadi sangat penting untuk mendeteksi hujan lebat, angin kencang, dan potensi longsor secara dini. Sistem ini telah terintegrasi dengan sensor IoT di wilayah seperti Sulawesi Tengah dan Banyumas. EWS berbasis data real-timeĀ terbukti mampu mengurangi risiko korban hingga 70 persen melalui penyampaian peringatan cepat kepada masyarakat.


Langkah Mitigasi Prioritas Untuk Daerah Rawan

Bencana hidrometeorologi menuntut pendekatan mitigasi yang komprehensif dan berkelanjutan, dimulai sejak tahap pra-bencana hingga pasca-bencana. Upaya seperti reboisasi DAS, pembangunan drainase, embung, dan check dam menjadi fondasi penting dalam mengurangi risiko banjir dan longsor. Langkah ini perlu diperkuat dengan sosialisasi, rambu evakuasi, serta vegetasi penguat lereng, khususnya di wilayah rawan seperti Jawa dan Sumatra.

Pada saat bencana terjadi, kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi kunci utama penyelamatan jiwa. Evakuasi mandiri yang cepat, distribusi air bersih, serta penerapan desain rumah tahan banjir mampu meminimalkan dampak langsung terhadap korban. Setelah bencana, evaluasi menyeluruh diperlukan untuk mendorong pembangunan infrastruktur yang lebih resilien, seperti kanal terpadu dan sistem pengelolaan sungai berkelanjutan.


Penguatan ketahanan iklim daerah harus mengintegrasikan green infrastructure dengan teknologi peringatan dini berbasis lokal. Pemanfaatan EWS, sensor IoT, serta pemantauan cuaca BMKG perlu dibarengi edukasi lingkungan, seperti penghematan air dan pengurangan ketergantungan pada kayu bakar. Kolaborasi ini menjadi kunci menciptakan daerah yang adaptif terhadap risiko bencana hidrometeorologi.


Ancaman bencana hidrometeorologi sepanjang 2025 memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian nasional, dengan pertumbuhan ekonomi kuartal IV diperkirakan berada di bawah lima persen. Gangguan pada sektor logistik, pertanian, dan distribusi pangan menjadi faktor utama perlambatan tersebut. Kondisi ini menegaskan bahwa dampak bencana tidak hanya bersifat lingkungan, tetapi juga memengaruhi stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat secara luas.


Untuk mengurangi risiko di masa mendatang, diperlukan langkah adaptasi yang terintegrasi dan berkelanjutan. Penguatan Early Warning System, mitigasi berbasis karakteristik daerah, serta restorasi lingkungan harus menjadi prioritas bersama. Kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat sangat penting dalam membangun ketahanan iklim. Upaya kolektif ini menjadi fondasi menuju pembangunan yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of ThingsĀ (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:


Website:Ā mertani.co.idĀ 

Linkedin :Ā PT Mertani


Sumber:

Komentar


Pop up bawah.png
WhatsApp

Hubungi Kami

Dapatkan Penawaran Spesial Sesuai Kebutuhanmu!
  • YouTube
  • LinkedIn
  • Instagram
  • White Facebook Icon

Sleman, Yogyakarta 55286​

(0274) 2888 087

contact@mertani.co.id

+62 851-7337-3817 (Mugiyati)

© 2018 by PT Merapi Tani Instrumen

Thanks for submitting!

bottom of page