Resiliensi Berkelanjutan Bencana: Strategi Adaptif dalam Menghadapi Banjir dan Longsor
- Marketing Mertani
- 29false27 GMT+0000 (Coordinated Universal Time)
- 3 menit membaca

Bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor semakin mendominasi daftar kejadian bencana di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Perubahan iklim memicu curah hujan ekstrem, pergeseran musim, serta peningkatan intensitas badai yang berdampak langsung pada kerentanan wilayah. Sejak 2010 hingga 2026, data BNPB menunjukkan tren peningkatan signifikan dengan ratusan kejadian setiap tahun yang menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan sosial ekonomi masyarakat luas.
Kondisi tersebut menegaskan pentingnya resiliensi berkelanjutan bencana sebagai pendekatan strategis dalam pengurangan risiko. Resiliensi tidak hanya berfokus pada pemulihan pascabencana, tetapi juga pada kesiapsiagaan, adaptasi, dan mitigasi berbasis data. Dengan membangun sistem yang tangguh, kolaboratif, serta berorientasi jangka panjang, masyarakat dan pemerintah dapat bertransformasi dari pola respons reaktif menjadi langkah proaktif yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Apa Itu Resiliensi Berkelanjutan dan Kaitannya dengan Bencana Hidrometeorologi
Resiliensi berkelanjutan bencana didefinisikan sebagai kemampuan sistem sosial, ekonomi, dan lingkungan untuk menyerap dampak, beradaptasi terhadap perubahan, serta pulih secara efektif setelah terjadi guncangan. Pendekatan ini menekankan keberlanjutan fungsi esensial masyarakat, sehingga aktivitas penting tetap berjalan meskipun terdampak bencana. Dalam konteks hidrometeorologi, konsep ini menjadi semakin relevan karena intensitas cuaca ekstrem terus meningkat signifikan setiap tahunnya.
Keterkaitan resiliensi dengan bencana hidrometeorologi terlihat jelas pada peristiwa banjir dan longsor yang dipicu hujan deras berkepanjangan. Dampak tersebut kian parah akibat deforestasi dan urbanisasi yang tidak terkendali. BNPB menegaskan penguatan resiliensi melalui empat pilar utama, yakni budaya kelembagaan tangguh, pemanfaatan sains dan teknologi, pendanaan berkelanjutan, serta pembangunan infrastruktur tahan bencana.

Sosial, Lingkungan, Ekonomi, dan Infrastruktur sebagai Pilar Resiliensi
Pilar sosial dalam resiliensi berkelanjutan bencana berfokus pada peningkatan kesadaran, kapasitas, dan partisipasi masyarakat dalam menghadapi risiko. Edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, serta sistem peringatan dini menjadi langkah penting untuk meminimalkan korban jiwa. Bantuan yang tepat sasaran, termasuk evakuasi cepat saat banjir, memastikan kelompok rentan terlindungi. Sementara itu, pilar lingkungan menekankan konservasi daerah aliran sungai guna menekan risiko longsor dan banjir berulang.
Di sisi lain, pilar ekonomi memastikan proses pemulihan berjalan cepat melalui diversifikasi usaha yang tahan terhadap risiko bencana serta dukungan asuransi. Strategi ini membantu masyarakat tetap produktif pascabencana. Pilar infrastruktur mencakup pembangunan bendungan, tanggul, dan sistem drainase tahan banjir. Investasi pada infrastruktur tangguh terbukti lebih efisien karena mampu mengurangi biaya rekonstruksi dan kerugian jangka panjang secara signifikan.
Peran Pembangunan Berkelanjutan dalam Mengurangi Risiko Bencana
Pembangunan berkelanjutan berperan sebagai investasi jangka panjang yang memperkuat ketahanan terhadap bencana. Integrasi mitigasi risiko ke dalam kebijakan fiskal dan tata ruang menjadi langkah strategis untuk menekan dampak hidrometeorologi. Perencanaan yang mempertimbangkan kerentanan wilayah mampu mengurangi potensi kerugian. Dengan pendekatan ini, pemerintah tidak hanya merespons bencana, tetapi juga mencegah risiko melalui kebijakan yang terstruktur dan berbasis data ilmiah akurat.
Alih fungsi lahan hutan yang tidak terkendali sering memicu banjir bandang dan longsor di berbagai daerah. Oleh karena itu, pengelolaan daerah aliran sungai serta penegakan Rencana Tata Ruang Wilayah menjadi sangat krusial. Laporan IPCC 2023 menunjukkan bahwa strategi pembangunan berkelanjutan mampu menekan biaya fiskal pascabencana hingga puluhan persen, sekaligus memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat terdampak.
Integrasi Resiliensi dalam Perencanaan Daerah
Integrasi resiliensi berkelanjutan bencana dilakukan melalui penyusunan RPJPD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah)Ā dan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) yang berbasis analisis risiko. Pendekatan ini memungkinkan identifikasi wilayah prioritas, seperti yang diterapkan di Sulawesi Selatan dalam pemetaan kerentanan banjir dan longsor. Perencanaan pembangunan tidak lagi bersifat umum, melainkan disesuaikan dengan tingkat ancaman serta kapasitas daerah, sehingga kebijakan yang diambil lebih terarah dan efektif dalam jangka panjang.
Pemerintah daerah juga diwajibkan menyusun Rencana Penanggulangan Bencana yang terintegrasi bersama Bappeda untuk memperkuat analisis spasial risiko banjir dan longsor. Kolaborasi lintas sektor ini memastikan kebijakan tata ruang selaras dengan mitigasi bencana. Di DAS Ciliwung, sejak 2026 diterapkan lima pilar penguatan resiliensi, termasuk penegakan regulasi RTRW dan pembangunan infrastruktur pengendali banjir secara berkelanjutan.

Resiliensi berkelanjutan bencana menawarkan strategi adaptif yang bersifat holistik dalam menghadapi ancaman banjir dan longsor. Pendekatan ini mengintegrasikan empat pilar utama, yaitu sosial, lingkungan, ekonomi, dan infrastruktur, sehingga pengurangan risiko dilakukan secara menyeluruh. Dengan memperkuat kapasitas masyarakat, menjaga ekosistem, serta membangun sistem yang tangguh, dampak bencana dapat ditekan secara signifikan dan berkelanjutan di berbagai wilayah rawan.
Implementasi resiliensi dalam kerangka pembangunan berkelanjutan dan perencanaan daerah mampu meminimalkan kerugian sosial maupun ekonomi, bahkan mendorong tercapainya target zero victim. Komitmen nasional yang selaras dengan Deklarasi ASEAN semakin memperkuat sinergi kebijakan dan kolaborasi regional. Langkah strategis ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan Indonesia yang tangguh, adaptif, dan siap menghadapi tantangan bencana di masa depan. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of ThingsĀ (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:
Website:Ā mertani.co.idĀ
YouTube:Ā mertani officialĀ
Instagram:Ā @mertani_indonesia
Linkedin :Ā PT Mertani
Tiktok :Ā mertaniofficial
Sumber:






Komentar