Memahami Likuefaksi: Ancaman Geologi di Sulawesi dan Strategi Mitigasinya
- Marketing Mertani
- 30 Des 2025
- 3 menit membaca

Likuefaksi adalah fenomena geologi berbahaya ketika tanah berbutir halus dan jenuh air kehilangan kekuatannya akibat guncangan gempa, sehingga berperilaku seperti cairan. Di Sulawesi, kondisi geologi dan aktivitas seismik tinggi meningkatkan potensi likuefaksi. Peristiwa Palu 2018 menjadi contoh nyata dampak destruktif, meliputi amblesan tanah, pergeseran permukiman, dan kerusakan infrastruktur penting.
Kerentanan Sulawesi terhadap likuefaksi menuntut strategi mitigasi bencana yang terencana dan berkelanjutan. Upaya tersebut mencakup pemetaan zona rawan, penguatan tata ruang, edukasi masyarakat, serta penerapan teknologi pemantauan geoteknik. Kesiapsiagaan juga harus didukung sistem peringatan dini dan koordinasi antar lembaga, sehingga risiko korban jiwa dan kerugian material dapat diminimalkan secara signifikan.
Apa Itu Likuefaksi dan Mengapa Sulawesi Rentan?
Likuefaksi terjadi ketika tanah jenuh air, khususnya pasir lepas, kehilangan kekuatan geser akibat tekanan pori air yang meningkat drastis selama gempa bumi. Proses ini membuat material tanah seperti melayang dalam air, menyebabkan aliran lateral atau retakan yang memancarkan lumpur dan pasir. Likuefaksi hanya muncul di bawah muka air tanah dangkal, pada kedalaman hingga 20 meter, dan dipicu gempa magnitudo di atas 5 SR dengan sumber dangkal.ā
Sulawesi rentan karena berada di zona subduksi aktif dengan tanah aluvial berpasir di pesisir dan dataran rendah, ditambah muka air tanah tinggi dekat pantai. Wilayah seperti Palu didominasi sedimen longgar yang kurang terkonsolidasi, memperbesar potensi likuefaksi saat guncangan kuat. Faktor geologi ini membuat Sulawesi menjadi hotspot ancaman likuefaksi di Indonesia
Belajar dari Kejadian Likuefaksi Palu 2018
Gempa Palu Donggala berkekuatan 7,5 SR pada 28 September 2018 memicu likuefaksi ekstrem di wilayah Petobo, Balaroa, dan Jono. Tanah bergerak puluhan meter menyerupai gelombang akibat flow liquefaction. Ribuan rumah tenggelam, termasuk 1.747 unit di Balaroa dan 744 di Petobo, menyebabkan korban jiwa besar, kerusakan infrastruktur, serta pergeseran lahan akibat gaya gravitasi lereng.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa likuefaksi dapat berkembang sangat cepat pada tanah pasir jenuh air, bahkan tanpa peningkatan kekuatan gempa yang signifikan. Pembelajaran dari Palu menegaskan pentingnya identifikasi dini menggunakan indeks potensi likuefaksi. Dampak besar yang ditimbulkan juga menekankan urgensi pemetaan risiko geologi sebelum aktivitas pembangunan dilakukan di wilayah rawan gempa.

Zona Rawan Likuefaksi dan Pemetaannya
Pemetaan zona rawan likuefaksi di Sulawesi dilakukan menggunakan metode analitik seperti Analytical Hierarchy Process yang mengklasifikasikan wilayah dari risiko sangat tinggi hingga sangat rendah. Penilaian didasarkan pada jenis tanah, kedalaman muka air tanah, serta riwayat kegempaan. Di Palu, zona merah mencakup Palu Utara, Palu Barat, Tatanga, pesisir Banawa Tengah, serta wilayah Mantikulore dan Ulujadi.
Peta kerawanan tersebut divalidasi menggunakan data zona rawan bencana Kota Palu dan menunjukkan kesesuaian tinggi pada kawasan aluvial pesisir. Pemanfaatan teknologi GIS dan remote sensing yang mendukung akurasi analisis spasial. Pemetaan berkala menjadi kebutuhan penting mengingat dinamika geologi Sulawesi yang aktif dan terus mengalami perubahan struktur tanah.
Pentingnya Perencanaan Tata Ruang Berbasis Risiko
Perencanaan tata ruang berbasis risiko berperan penting dalam mencegah pembangunan di zona dengan potensi likuefaksi tinggi melalui pengaturan zonasi bangunan dan infrastruktur. Di Palu, kebijakan ini diwujudkan dengan larangan pemukiman baru di wilayah rawan serta program relokasi penduduk dari zona merah. Pendekatan rekayasa seperti soil mixing dan grouting diterapkan untuk meningkatkan kepadatan tanah, khususnya pada fasilitas penting.
Integrasi peta risiko likuefaksi ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah memastikan setiap pembangunan memperhatikan kedalaman pondasi hingga mencapai lapisan tanah keras. Koordinasi lintas lembaga, terutama dengan BPBD, memperkuat implementasi kebijakan mitigasi struktural. Pendekatan tata ruang berbasis risiko ini menjadi fondasi penting mitigasi bencana jangka panjang di wilayah Sulawesi yang aktif secara geologi.
Kesiapsiagaan Masyarakat dan Opsi Mitigasi
Kesiapsiagaan bencana likuefaksi melibatkan pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan kepada masyarakat mengenai tanda awal seperti retakan tanah, pergerakan permukaan, atau semburan pasir. Pemahaman ini mendorong evakuasi cepat saat gempa terjadi. Mitigasi non-struktural dilakukan melalui simulasi kebencanaan rutin serta penguatan kesadaran publik yang difasilitasi BPBD Palu. Strategi kelembagaan menekankan koordinasi antar-kabupaten untuk respons terpadu.
Mitigasi teknis dilakukan dengan penerapan pondasi tiang pancang yang menembus lapisan pasir jenuh hingga tanah keras, serta sistem drainase untuk menurunkan muka air tanah. Pemerintah Kota Palu juga menerapkan program edukasi mandiri bagi aparatur dan masyarakat, didukung dokumentasi studi pascabencana Palu 2018. Kombinasi langkah struktural dan non-struktural ini meningkatkan ketahanan wilayah terhadap risiko likuefaksi.

Likuefaksi masih menjadi ancaman serius di wilayah Sulawesi karena kondisi geologi yang labil dan aktivitas seismik tinggi. Namun, risiko bencana ini dapat ditekan melalui pemetaan zona rawan yang akurat, perencanaan tata ruang berbasis risiko, serta pengendalian pembangunan di wilayah berbahaya. Integrasi data geologi dan kebencanaan membantu pemerintah mengambil keputusan yang lebih tepat dan berkelanjutan.
Selain aspek perencanaan, kesiapsiagaan aktif masyarakat dan lembaga menjadi kunci utama pengurangan dampak likuefaksi. Edukasi berkelanjutan, simulasi evakuasi, dan koordinasi lintas sektor memperkuat respons saat bencana terjadi. Dengan pendekatan komprehensif antara kebijakan, teknologi, dan partisipasi publik, potensi kerugian jiwa dan material akibat likuefaksi dapat diminimalkan secara signifikan. Dapatkan informasi terbaru mengenai teknologi, isu lingkungan terkini, dan perkembangan Internet of ThingsĀ (IoT) dengan mengikuti aktivitas kami di:
Website:Ā mertani.co.idĀ
YouTube:Ā mertani officialĀ
Instagram:Ā @mertani_indonesia
Linkedin :Ā PT Mertani
Tiktok :Ā mertaniofficial
Sumber:






Komentar